Sabtu, 15 Februari 2014

Kapurung, Still Fall in Love. Makanan Khas Palopo yang Menggugah Selera.


                 ket: Kapurung & Barobbo

Hello everyone......
I'm back again. Finally, saya akhirnya merasakan kebosanan tersendiri setelah lama tidak pernah memposting tulisan di blog ini.
Awal postingan ini akan saya mulai dengan menyuguhkan tulisan tentang makanan khas makassar yang menjadi favorit saya. baik sebelum ataupun selama masa pregnancy ini.
Sejujurnya ada banyak hal yang ingin saya tulis dan posting. Tentang makanan khas makassar yang selalu menjadi favorit. Tentang fashion yang semakin saya sukai dan tentang hobby traveling dan bergaya modelling selama masa pregnancy ini. Tetapi, nanti sajalah satu per satu akan saya suguhkan.

Seminggu lalu tepatnya 8 Februari 2014, saya ngiler sekali makan kapurung. alhamdulillah dengan susah payah akhirnya menemukan Warung Aroma Palopo terdekat di Jl. Mappanyukki. Siang2 menikmati kapurung panas itu rasanya sesuatu. Sebenarnya ini makanan khas Palopo. Dengan bahan utama sagu dan sayur-sayuran, boleh memilih rasa ikan, udang, ayam, atau campur. Ditambahkan raca' mangga dan lawa' ikan semakin menambah citarasa yang nikmat.

Rasanya rugi menjadi warga sulsel jika tak pernah mencicipi Kapurung ini. Benar-benar makanan daerah yang nikmat dan juga memiliki kandungan gizi yang sehat.
Selama masa pregnancy ini, saya memfavoritkan menu makanan ini karna menurut info bumil ity harus menyantap makanan bergizi terutama sayuran hijau. Nah, bayam dan kacang panjang termasuk salah satu tambahan dalam menu kapurung tersebut. Bagi pecinta makanan pedas, ini bisa menjadi pilihan juga. Sebab bisa ditambahkan sambal mentah super pedas.

Selamat mencoba!

Next post: Tentang Barobbo yah.

Jeneponto, 15 Februari 2014

Kamis, 02 Mei 2013

Jangan Menangis dengan Pilihanmu> :)

Hidup adalah pilihan. Pilihan yang kadang membuatmu menangis karena merasa hidup telah salah memilihkan pilihan yang tepat. Namun, pilihan yang terkadang dianggap salah menurut kacamata manusia, biasanya menjadi pilihan terbaik di hadapan Allah. Maka, syukur adalah jawaban yang tepat atas pilihan yang telah diberikan atas hidupmu.

maka jangan menangis dengan pilihanmu sekarang. :)

Senin, 08 Oktober 2012

Ketika Kau Hadir :Part 2 >>> Akhir



            Pagi masih buta. Tak terdengar suara ayam jantan berkokok lagi. Tak terdengar pula omelan bunda atau ibu kost. Ocha masih pulas ketika Uni membangunkannya. Menggedor-gedor pintu kamar begitu keras. Aduh apaan sih, ganggu saja, hari inikan aku nggak ada kuliah. Jadi aku bisa istirahat cukup, bebenah kamar. Sungut gadis itu. Tetapi, itu nanti. Dengan mata masih terpejam, Ocha menyahut panggilan Uni.
“Ada apa sih, Ni?”
“Ada telpon Ifan dan Ichal. Mau diterima nggak? Katanya penting lho”.
Ah, Ichal dan Ifan, tumben banget mereka nelpon. Bukannya lagi sibuk dengan aktivitas kampusnya. Lalu, kabar penting apa sih, mungkin Uni hanya mengelabuiku  saja agar aku cepat bangun, aku lekas bangun dan membukakan pintu untuk Uni.
“Tumben nelpon, mau married ya?”
Ifan, dan Ichal adalah teman yang masih setia berbagi cerita dengan Ocha, mereka adalah sahabat yang masih tersisa untuk mendengarkan keluh kesahnya.
“Sudah jam tujuh non, masih molor saja kerjaannya, pantes berat badan tuh tambah melar, gimana bisa diet.” Omel mereka dari seberang. Ocha hanya mendongkol mendengar ledekan mereka di pagi hari, seperti biasa.
“Biarin, memangnya ada aturan baru ya kalo’ anak indekosan dilarang bangun kesiangan? Nggak ada kok, by the way, ada apa pake’ acara nelpon segala, masih ingat juga ya rupanya kalian berdua, cecunguk-cecunguk tengik”. Ocha membalas ejekan mereka. Rasain. Terdengar  suara mereka yang mendengus, agak jengkel, tak apalah, mereka yang duluan kok.
“Cha, ada acara nggak hari ini, kita jalan yuk, kami kangen berat nih”.
“Aduh, gimana ya, sebenarnya sih ada, tapi….”, Ocha menghentikan  ucapannya untuk membuat mereka penasaran. Mereka mulai mendesak.
“Tapi, apaan Cha, buruan dong, atau kamu nggak mau lagi jalan sama kita ya, udah bosan ya? ya sudah persahabatan kita berakhir di sini”. Terdengar nada kecewa dari hembusan nafasnya. Uh, kena kalian, dikerjain. Sekejap, Ocha tertawa terbahak-bahak hingga Uni melongok dari kamarnya karena penasaran.
“Rasain kalian, tadi itu aku kan belum lanjutin kalimatnya, maksudnya kalo’ kalian yang ngajak, aku sih oke saja, lagian aku nggak ada kuliah kok hari ini, mau ngajak kemana?”
“Dasar rese’ lo Cha, ngerjain kami berdua, kita ke MP ya? temanin aku belanja dong, cari  kado untuk Rara, dia ulang tahun nanti malam, aku nggak tahu ngasih kado apa, aku pikir kamu kan cewek, sejenis dengan dia, jadi pasti tau deh apa yang pas buat Rara, plis ya,” Ifan membujuk Ocha habis-habisan.
            Sejak hubungannya dengan Uni putus setahun yang lalu saat promnight sekolahan. Padahal semasa sekolahan, mereka berdua dikenal pasangan Romeo dan Juliet. Selalu bersama. Maklum, jabatan sebagai Ketua Osis dan sekretaris semakin mempopulerkan keduanya. Malang tak dapat dihalangi, keduanya berpisah karena alasan pihak ketiga. Dug, kayak selebriti ajah, putus karena pihak ketiga. Lalu, Ifan pacaran dengan Rara, anak STMIK.Wajahnya sih aku nggak pernah liat. Tapi kata Ichal, orangnya lumayan cantik. Gaul pula. Meskipun mereka sudah putus, bukan berarti persahabatan mereka akan terputus juga. Kami tetap berkomunikasi by phone, begitu pun dengan Uni dan Ifan.
“Aku sih mau, tapi kamu jemput aku ke sini ya jam 10, Uni boleh ikut kan?” tanya Ocha menggoda Ifan. Mendengar namanya disebut, Uni melongok dari dalam kamarnya. Bertanya mengapa namanya disebut juga, Ocha bilang kalo’ dia mau ikut nggak ke Mal cari kado untuk pacarnya Ifan.
“Cha, aku boleh ngomong nggak dengan Uni?” pintanya dari seberang.
“Ya bolehlah, nih Uni-nya juga udah ngebet banget pengen bicara sama kamu,” Ocha menyerahkan gagang telpon ke Uni, dan bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Terdengar tawa cekikikan Uni dari luar. Asyik sekali pembicaraannya dengan Ifan dan Ichal, apa yang diomongin ya? Ocha semakin penasaran dan mendekati Uni.
“Kalian ngobrolin apaan sih?” seraya mendekatkan telinga ke gagang telpon. Seru sekali.
*******

Pukul 10. 30 wita di Mal
            Seorang gadis dan 2 orang pria berjalan dengan santai memasuki ruangan Mal. AC-nya membuat tubuuh gadis itu harus merapatkan sweater di badannya yang tak pernah dilepas sewaktu turun dari motor tadi. Pengunjung mal juga belum terlalu banyak berseliweran. Anak-anak sekolah pun belum datang ngecengin outlet-outlet. Para SPG pun belum banyak yang siap melayani. Mereka menaiki lantai 2 dengan eskalator yang tersedia. Satu persatu counter pun dimasuki, namun belum ada satupun yang cocok buat selera Ifan, eh, selera Ifan atau pacarnya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk masuk ke outlet tas’ ELIZABETH’. Ifan menanyai gadis itu barang yang cocok buat Rara. Aku menggeleng. Ifan langsung cemberut, tapi gadis itu langsung memaksa untuk menyebutkan ciri-cirinya. Setelah itu, dia memilihkan tas yang mungil untuknya dan Ifan langsung menyetujuinya. Dan, Ichal hanya mengangguk lemas. Katanya sih, cukup unik. Mreka akhirnya ke kasir membayar tagihannya.
            Setelah lama berkeliling hingga ke lantai 3, perut Ichal berbunyi kriuk minta diisi. Kami pun tertawa bersamaan. Langsung saja Ocha tanpa sungkan menarik mereka ke resto yang terkenal enak dan terletak di lantai 1.
“Cha, ngomong-ngomong, kamu sudah dapat pengganti kakakku belum?” tanya seenaknya saja. Ocha terdiam mendengar pertanyaannya dan memalingkan muka ke sudut ruangan resto ini. Terlihat sepasang remaja berpegangan tangan sambil bergantian saling menyuapi. Tentu saja perutnya menjadi mual seketika dan tak berselera makan lagi. Baru saja beranjak dari tempat duduk, Ifan dan Ichal segera menahan tangan Ocha. Mereka jadi heran melihat tingkahnya langsung aneh dan berubah kayak begitu.
“Ada apa Cha, aku menyinggung perasaan kamu ya, sori, aku nggak ada maksud lain kok,” mereka meminta maaf dan tak akan mengulanginya lagi. Mereka membujuknya untuk makan lagi. Ocha menurutinya, tapi baru sesuap yang ditelannya, perutnya jadi mules dan kontan saja makanan dalam mulutnya dimuntahkan bersamaan dengan gejolak saat ini. Tentu saja, Ifan dan Ichal bersungut jengkel melihat ulahnya, yang telah mengenai baju mereka. Ocha merasa bersalah dan meminta maaf pada karena  tak sengaja.
“Fan, Chal, maaf ya, nggak sengaja, cepetan deh kalian bersihkan  di toilet, aku tunggu di sini ya!”
“Kamu sih enak minta maaf, tapi liat nih jadi blepotan,” omel Ifan seraya meninggalkannya menuju toilet di ujung kiri sana.
            Ada apa denganku? Mendengar nama kak Fais. Kok aku jadi begini? Meski pun aku berusaha melupakan sosoknya. Namun, tetap tak bisa. Bahkan untuk menggantikan posisinya pun tak  bisa kulakukan.

Katakan padaku
Dengan apa kusapu pelangi yang tertinggal
Jika pendar-pendar melati masih di sini
Dengan apa pula sesal ini kuhempas
Setelah se abad merana karenanya
Ingin kugenggam kembali
Tapi tak mampu
Ingin kuraih yang lain
Namun, tak kuasa
‘Perihku padamu’
‘ meraja bertalu

Minggu, 07 Oktober 2012

Ketika Kau Hadir : Part 2>> Lanjutan




Huft. Akhirnya tiba di rumah juga. Ocha menjadi pembalap sepeda nomor satu. Duh, pukul 08.59 wita, akan ada pembantaian dari Naya kalo dia terlambat lagi. Baru saja Ocha melangkahkan kaki memasuki rumah, tiba-tiba telepon rumah berdering keras mengagetkannya. Kontan saja Ocha melompat tinggi dan langsung mengangkatnya.
Kring…!! Kring..!!
“Halo.. siapa nih?!!”
“Eh kampret, kamu masih di rumah ya, kami jemput ya? udah di jalan nih”.
Tuut . Tanpa sempat dijawab, mereka menutup telponnya. Sialan, pulsanya kurang kali. Tapi, nggak boleh seenaknya gitu dong, kayak nggak punya sopan santun saja, nggak diajarin kali yee. Lho kok aku jadi senewen begini. Mereka kan udah biasa ngelakuin semua ini.
Klakson mobil Naya terdengar dari luar rumah. Sepertinya kuntilanak itu sudah datang. Dan, aku apa dong? Nggak ah, ngawur banget sih aku.
“Hai kunyuk belom ganti pakaian ya? Tapi udah mandi kan?”
Semprot mereka dari dalam mobil. Tentu saja aku jadi cemberut dikatain kunyuk, tega banget sih mereka? Cantik-cantik begini juga manis pula. Tanpa menjawab pertanyaan mereka, Ocha langsung berlari ke dalam kamar mencari Bunda. Semoga Bunda ngijinin aku pergi. Pikirku.
“Bunda, Ocha mau minta ijin ke luar bareng teman-teman, boleh ya?’ aku merengek mengeluarkan jurus ampuh. Dengan berat hati, Bunda mengijinkan juga dengan petuah sepanjang rel kereta api. Setelah berganti pakaian dan berpamitan, berangkaaaaaaat. Dan, astaga kebiasaan Naya mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi. Tak bisa juga diubah. Hampir saja mobilnya menabrak pedagang kaki lima yang berjejeran di sepanjang jalan  Cendrewasih ke Pantai Losari.
“Nay, pelan-pelan dong. Kamu mau kita mati muda? Rugi dong dunia akhirat,” ujarku menasihatinya dengan nada bercanda. Tetapi, dasar Naya, masuk telinga kanan ke luar telinga kiri, tetap saja mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi.
Kami tiba di pantai tepat pukul 09.20 wita. Akhirnya sampai juga dengan selamat. Kami menghembuskan nafas dalam-dalam. Gimana nggak sih, hampir saja Naya mencopot nyawa kami gara-gara kelakuan brutalnya mengemudikan mobil.
“Hey, turun yuk, mereka udah nungguin tuh di pinggir,” seraya menunjuk ke pinggir pantai. Di sana, ada 5 cowok yang kelihatan bete karena nungguin kita. Upss.. ada sosok coolnya kak Fais. Dia melambaikan tangannya dan melempar senyum manisnya ke arah kami dan pastinya aku dong yang paling manis ( GR banget sih aku). By the way, kenapa dia ada di sini ya? tumben banget kak Fais ikut bareng cowok-cowok gokil itu. Ifan…Ichal...Temmy, dan Rudi? What’s wrong ya?
Tanpa sadar aku telah berada di depan mereka, melihat tingkahku bengong seperti itu. Ifan sengaja menyentil hidungku yang emang dasarnya mancung ke dalam.
“What’s up girl? Kayak kerasukan setan aja !!”
Tentu saja Ocha tersontak kaget akibat ulah Ifan. Ocha mengomel panjang lebar ke Ifan disertai tertawaan serentak dari teman-teman. Kak Fais juga. Dia hanya tersenyum melihat ulah adiknya, Ifan emang paling doyan banget kalo menjahili Ocha
“Nay, kok kamu nggak bilang sih kalo kak Fais datang juga? Curang lho ya?” seruku seraya berbisik di telinga Naya.
Semprulll... Naya tak menanggapiku, malahan mendekati kak Fais dan yang lainnya.
“Guys, katanya kita mo jalan-jalan, kok cuma bengong di sini? jalan yuk ke sana”, ujarnya seraya menunjuk ke pinggir pantai. Sudah sepi.
Akhirnya, kami menuruti ajakannya Naya. Seperti biasa Ifan jalan beriringan dengan uni. Mereka berdua kan kekasih sejati. Sementara itu, yang lain berjalan di depan sambil bercanda ria. Tanpa mempedulikan keberadaanku dengan kak Fais. Mereka terus saja berlari ke depan. Sepertinya sengaja membiarkanku berduaan dengannya. Mungkin ini kejutan yang dikatakan Naya cs tempo hari. Aduh, kira-kira ada apa ya?
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya kak Fais membuka mulutnya lega untuk mulai pembicaraan.
“Cha, gimana sekolahmu, lancar-lancar aja khan?” tanya kak Fais sambil melirik ke arahku dan tersenyum manis. Duh, manis banget, (gula kali manis). Kok aku jadi geregetan  dan nervous gini sih? Jangan sampe’ ketahuan  kak Fais deh. Dengan bibir agak gemetar, Ocha menjawab pertanyaannya.
“Lumayan kak, tapi PR nya numpuk, sampe’-sampe’ badanku kadang pegal, bahkan kalo bisa, hampir remuk kali,” ujarku dengan nada bercanda, tentu saja kak Fais tertawa mendengar ocehanku.
“Kamu lucu juga ya cha, aku baru tahu lho. Ifan kok nggak pernah bilang kalo kamu bisa lucu seperti itu.”
Ocha jadi manyun dibilangin lucu sama kak Fais. Dikiranya aku pelawak, sepertinya kak Faiz sadar kalo’ Ocha tersinggung. Dia akhirnya minta maaf dan mengatakan cuma bergura.
“Cha, Ifan  dan yang lain ke mana ya, mereka kok ninggalin kita sih?”
“Nggak tau,”
Ocha pura-pura nggak tahu, padahal sih Ocha tahu kalo’ mereka sengaja ninggalin Ocha dan kak Fais, biar bisa bicara lebih lama.
“Cha, ngomong-ngomong, kamu udah punya pacar ya?”
Pertanyaan itu membuat Ocha tersentak kaget. Ocha bingung mau jawab apa, bilang ya atau nggak, tapi dasarnya sih Ocha punya, si Reno, anak SMANSA. Tetapi, mereka berdua jarang bertemu. Lagipula kalo’ Ocha bilang nggak, kak Fais belum tentu suka dan nyatain perasaannya. Ocha sadar kalau nggak mungkin jadi pacar kak Faiz, dia terkenal introvert dengan cewek-cewek di sekolah dulu, meskipun begitu, banyak cewek cantik yang notabenenya  gaul ngejar-ngejar kak Fais. Aduh, jadi bingung, jawab apa ya? masih memikirkan jawaban yang tepat, kak Fais malah megang pundak Ocha dan mata Bollak sayunya semakin tajam, seolah ingin menelan Ocha dengan nyata. semakin membingungkan.
"Apa lagi ini. Aliran darahku berdesir, jantungku berdetak kencang, aku semakin salah tingkah. Mungkin saja mukaku kayak kepiting rebus saat ini." Pikir batin Ocha.
“Cha, kamu dengar nggak pertanyaanku?”
Kak Faiz mencoba mendesak. Ocha mencoba menenangkan hatinya. Mengatur detak jantungnya yang berkejar-kejaran tanpa ingin dihentikan.
“Nggak ada, emangnya ada apa kak, mau ngedaftar ya?”
Ocha merendahkan volume suaranya dan mencoba bergurau agar dia tak ketahuan nervous begini. Wajah oval itu berpaling ke arah lain. Pandangan matanya disembunyikan begitu saja. Detak jantung berdegup begitu keras. Dalam hitungan detik, dia mencium Ocha. Kontan saja Ocha kaget. Seperti tersengat listrik. Tak percaya atas apa yang terjadi barusan. Finally, Ocha tertunduk malu menyembunyikan muka meronanya. "Duh, gusti ALLAH, makasih atas rezki yang Engkau berikan padaku pagi ini. Apaan sih, kok jadi ngayal gini."
“Kak Fais apaan sih, nggak malu ya diliatin orang?” ujar Ocha sambil melongok kiri kanan, jangan sampe’ ketahuan sama yang lain. Bisa jadi bahan ledekan seharian penuh. Untungnya aman.
Kak Fais malahan tersenyum penuh kemenangan melihat tingkah Ocha salah tingkah.
“Cha, aku suka sama kamu, boleh kan jadi pacarmu?”
“Tapi….” Baru saja akan melanjutkan kalimatnya, kak Fais keburu menyela..
“Aku hanya butuh jawaban, ya atau tidak!!”
Ocha jadi bingung sendiri nggak tahu harus jawab apa. Terima nggak ya? dengan suara agak kikuk dan kaku.
“Kak Fais beneren suka aku? Becanda kali!”
Tetap saja Ocha pura-pura bego untuk menutupi kekacauan hatinya yang sudah ingin diledakkan itu.
“Aku nggak bercanda Cha, aku serius sama kamu. Aku sudah lama memperhatikanmu sejak kamu berteman dengan Ifan cs. Aku pikir kamulah cewek yang paling tepat buat aku, sampe’ aku terobsesi banget tuk ngedapetin kamu tanpa sepengetahuan kamu”.
Kak Fais cerita panjang lebar. Sebenarnya Ocha sih nggak masalah, sebab notabenenya dia juga suka sama kak Fais. Tetapi, bagaimana dengan Reno? Cowok yang dipacarinya hampir setahun ini. Meskipun sekadar pelampiasan saja sama Reno, tapi akan sulit  menjelaskannya agar bisa putus darinya. "Ah, masa bodoh, kesempatan untuk deketan kak Fais udah ada di depan mata, hanya datang satu kali lho… lagipula, selama ini aku tak bertepuk sebelah tangan, dia juga menyambutnya tanpa sepengetahuannya juga. Atau jangan-jangan Uni cs yang bilang ke Ifan dan Ifan yang menyampaikannya. Dasar cecunguk sialan. Tetapi kok, mikirin mereka  sih. Keberadaannya saja mereka aku nggak tahu." Pikirnya membatin.
“Sebenarnya sih Ocha juga sayang sama kakak…”
Belum selesai ucapannya, tanpa ba bi bu lagi, kak Fais memeluknya erat tanpa permisi dan mengucapkan thank U berulangkali. Ocha hampir saja berteriak diberi aksi dadakan begitu. kaget melihat tingkahnya kayak anak kecil. Debaran jantung Ocha berdetak kencang lagi, tubuhnya bergetar serasa ada aliran listrik menyetrumnya. Sedang asyik gitu, eh maksudnya dipeluk. Tampak dari kejauhan, mereka bersorak dan bersiul menggoda kami.
“Duh yang lagi jatuh cinta, lupa ya sama kita-kita? Emang sih, kalo’ udah jatuh cinta, dunia serasa milik berdua, lalu kita di kemanain dong??”
Kontan saja tawa yang lain meledak akibat ledekan Ichal. Ocha hanya bisa tersipu sekaligus menggerutu dalam hati melihat ulah mereka. Kak Fais tampak adem ayem saja mendengar ocehannya.
 
                                              ******
Suara merdu Ariel Peterpan lewat lagunya’ Semua Tentang Kita’ yang mengalun indah di MP3 komputer telah berakhir membuyarkan lamunan gadis itu. Dia tersenyum getir mengingat kenangan itu. Tanpa sadar, tangannya bergerak pelan menekan tuuts komputer.

Dear diary                                                                      Wednesday, 22nd February
Masa laluku tidak pernah bisa melepaskanku. Aku semakin terjerat di dalamnya. Entah kapan waktu itu akan datang menjemputku tuk keluar dari kubangan kelam ini. Aku sudah tak kuasa menahannya. Menariknya lagi ,aku lelah. Sekali waktu inginku berlari untuk menghindari semua ini. Tetapi selalu saja ku ditariknya hingga aku semakin terjatuh dan terjatuh. Orang bijak mengatakan semakin sering kita terjatuh, kita semakin tidak merasakan sakit. Dan saat inipun. Aku ingin berkata aku belum puas terjatuh agar tegar itu bisa mencapaiku. Meskipun sangat sulit tuk mewujudkannya. Diam-diam aku selalu berusaha ingin mewujudkan impianku. Aku sadar kalo’ waktunya masih akan lama untuk bisa meloloskan diriku dari jeratan tali ini. Namun, aku yakin suatu saat hari itu akan tiba.
            Gadis itu berhenti sejenak mengamati tulisannya. Begitu terlukakah hatinya untuk seorang lelaki bernama kak Faiz? Dia melirik jam yang terpampang di dinding kamar berukuran 4 x 5 meter. Sudah pukul 1 malam. Rupanya sudah larut malam. Anjing tetangga menggonggong begitu nyaring. Suasana rumah kosanku menjadi senyap dan lengang. Tak terdengar lagi bunyi radio yang keras dari kamar sebelah. Mereka sudah terlelap. Entah apa yang diimpikannya. Gadis itu mematikan monitor komputer dan segera bergegas ke tempat tidur untuk menghilangkan penat setelah seharian beraktivitas.

Inilah hidup
Berperan dalam suka pun duka
Sebagai jalan melintang
Dalam pelukan dunia.


*Bersambung........ ^_^

Ketika Kau Hadir : Part 2



Bagian DuA

Pagi tersenyum indah. Matahari mulai menyemburat menyapa semesta yang riang. Raga ini seolah ingin memberontak. Mengapa pagi begitu cepat hadir di hari minggu seperti ini? Mimpi belum usai kujalin. Ocha tertatih mencoba bangkit dari tempat tidur. Sungguh rasanya seluruh sendi tulangnya seolah ikut patah mendengar omelan sepanjang rel kerata Bunda dari dapur.
“Ocha, bangun dong sayang, udah siang tuh! Aduh, kamu dikalahin lagi sama si Pipit, dasar pemalas!” seru Bunda lantang yang ternyata sudah ada di depan pintu kamarku sambil menggedor-gedor dengan berkacak pinggang.
Si Pipit itu adalah nama ayam jantan kesayangan Bunda. Bahkan, Ocha anak semata wayangnya kadang dicuekin total kalau urusannya sudah menyangkut Si Pipit itu, dasar ayam sialan bisa banget yah, kamu ambil posisi aku di depan Bunda? Begitulah gerutuannya setiap hari kalo selalu dibanding-bandingkan dengan Si Pipit. Seringkali Ocha memakinya hingga tenggorokannya serak, menunjukinya seperti memarahi seorang adik yang nakal. Tentu saja Pipit akan diam saja. Uhhh.
“Iya, Bunda, bentar lagi deh. Lagian ini hari Minggu, Ocha tidak sekolah, buat apa bangun cepat-cepat?” Sungutnya berjalan ke pintu kamar sambil memeluk bantal guling.
“Ada apa sih, Bunda bangunin Ocha? Suruh belanja lagi? Ocha nggak mau, ah! Ocha mau bobo’ lagi, soalnya masih ngantuk nih. Pliss ya, Bunda!” Dengan berbagai alasan aku membujuk Bunda agar mengizinkanku memeluk Teddy Gedeku lagi. Tapi rupanya Bunda tak kenal kompromi juga kali ini, sambil menjewer telingaku, menarikku ke luar dari kamarku.
“Bagus ya, sayang. Bunda kan tidak menyuruh kamu pulang larut malam, pake diantar Si Ichal.” Sambil menahan sakit akibat jeweran Bunda, aku mencoba menyela pembicaraannya.
“Aduh! Sakit nih, bun. Ocha pulang jam 11 malam kok, belum terlalu larut. Lagian Ichal kan sahabat Ocha. Bunda juga sudah tahu, kok masih marah sih? Ocha memanyunkan bibir sebagai tanda protes. Kalau sudah begini, hati Bunda pasti akan luluh. Lihat saja, dia nggak tega kok ngeliat anaknya yang tersayang ngambek seabad. Hihihi. Akting berhasil. Sorak Ocha dalam hati.
“Sudah kalo begitu, Bunda maafkan deh, tapi jangan diulangi yah? Sekarang kamu mandi, habis itu kamu ke rumah tante Mirna,” kata Bunda dengan suara mulai lambat kembali. Ocha pikir sih karena Bunda ada maunya, jadi… ya gitu deh. Upss bisa durhaka dong. Aduh, maafin Ocha ya Bunda, pliss! Sangat lama Ocha tertegun. Tentu saja Bunda heran ngeliat tingkah putri semata wayangnya. Kok tiba-tiba tergugu sambil senyum cekikikan lagi.
“Ocha, ngapain senyum-senyum sendiri, kamu mau kan?” tanya Bunda menatapku penuh keheranan dan sepertinya Bunda telah separuh kemenangannya dariku, ya… biarlah demi Bundaku yang cantik dan sayang sama aku, dia menang lagi. Ihh… pertandingan kaliii!!
“ Baiklah Bunda sayang, Ocha bakal nurutin perintah Bunda. Tapi, dengan satu syarat…” sambil mengerling Bunda dengan gaya centilku. Aku meninggalkan Bunda sendirian yang menganga lebar melihat kelakuanku. Aku memang menuruti keinginan Bunda, tapi jangan salah semua ini kulakukan agar Bunda ngijinin aku pergi bareng teman-temanku yang rada centil itu ke pantai. Uppss… hampir lupa, janjiannya jam 09.00 pagi ini, katanya sih ada kejutan. Aduhh… apa yah? Kok jadi penasaran begini sih. Ah, sudahlah, mending aku buruan mandi, trus ke rumah tante Mirna, sahabat mama yang mulutnya selebar beo itu. Tapi baik hati lhooo…, ditambah lagi anaknya cakep kayak bintang film Hollywood, Tom Cruise… alamaaak!!! Aku bisa pingsan kalau ketemu dia nanti. Jantungku bisa copot dan pastinya bakal dilarikan ke rumah sakit, pake Honda Jazz merahnya itu lhoo…, Duh, kok ngelantur ke situ sih, kapan mandinya. Ucapku cekikikan menuju ke kamar mandi. Byuuurr…. Segarnya, apalagi keramas pagi hari, otak jadi rileks, kepala jadi dingin.

****
Gadis itu mengayuh Polygon hitam kebanggaannya menyusuri jalan beraspal yang lumayan mulus menuju rumah tante Mirna. Sepintas Ocha melirik jam tangannya dan ternyata sudah menunjukkan pukul 07.45. Wah… gawat, harus buruan nih. Kalo tidak aku bisa telat janjian dengan my best friend semua, Naya, Riri, and Uni. Sepeda itu melaju kencang secepat mungkin. Nafas pun ngos-ngosan setelah tiba di rumah itu. Tanpa menoleh sedikit pun, kutaruh Polygonku berdekatan dengan Honda Jazz Merah itu. Hampir saja tertabrak, tapi secepat kilat seseorang telah menahannya dari samping. Pegangannya begitu kuat sehingga gadis itu tersungkur miring ke arahnya. Gadis bermata indah itu menatap matanya yang tajam. Dia tersenyum, uhhh… manis buanget!
 “Maaf yah, aku buru-buru, mobilmu tidak lecet kan?” gadis itu cepat tersadar dan segera minta maaf atas perbuatannya. Hampir saja jantungnya copot saat senyum mautnya tersungging dari bibir tipisnya. Gadis berwajah oval itu memalingkan wajah. Tak boleh terlalu kerdil begitu memujinya. Bisa-bisa dia besar kepala lagi, ujarku dalam hati. Setelah tertegun sejenak, pertanyaannya pun dijawab sambil membetulkan letak polygon hitamnya.
 “Nggak apa-apa kok, hanya lecet sedikit bisa diperbaiki. Hei, nama kamu siapa? Aku Ragil,” Dia mengulurkan tangannya yang blepotan itu, tapi tak apalah.
“Ocha. O, ya tante Mirna ada? Soalnya ada titipan dari Bunda nih”. Ocha menyerahkan bungkusan plastik yang isinya entah apa. Mungkin ajah bom. Sebab bunda melarangku membukanya.”
“Maksud kamu Mama? Ada kok di dalam, tunggu ya, aku panggilkan atau kamu masuk saja!” Tanpa ba-bi-bu lagi Ocha melangkah ke dalam mengikuti langkah kaki Ragil yang terus saja berteriak memanggil Mamanya di dapur. Biasalah, Ibu rumah tangga hari minggu begini pasti kerjaannya di dapur mempersiapkan sarapan pagi untuk keluarganya. Tak lama kemudian, tampak dari dalam tante Mirna menuju ke arah Ocha sambil menyapanya dengan wajah lelah dan letih yang nampak Ragil sih, nggak bantu Mama-nya, khan repot begini. Aduh lupa, kan cowok.
“Aduh jadi merepotkan ya, Cha? Makasih yah, bilang sama Mamamu juga. Duduk dulu ya, tante bikinin teh, kamu pasti capek.”
 Baru saja tante Mirna akan berdiri, Ocha segera menyelanya.
 “nggak usahlah tante, Ocha pulang saja. Soalnya ada janji sama teman, hampir telat nih.” Ocha berdiri dan berpamitan pada tante dan Ragil yang menatapnya bengong tak berkedip.
“Mama, anaknya tante Rani cantik ya?” Ragil melirik mamanya dengan sumringah lebar yang dibalas lirikan aneh oleh Mamanya.


*Bersambung.........