Huft.
Akhirnya tiba di rumah juga. Ocha menjadi pembalap sepeda nomor satu. Duh,
pukul 08.59 wita, akan ada pembantaian dari Naya kalo dia terlambat lagi. Baru
saja Ocha melangkahkan kaki memasuki rumah, tiba-tiba telepon rumah berdering
keras mengagetkannya. Kontan saja Ocha melompat tinggi dan langsung
mengangkatnya.
Kring…!! Kring..!!
“Halo.. siapa nih?!!”
“Eh kampret, kamu masih
di rumah ya, kami jemput ya? udah di jalan nih”.
Tuut . Tanpa sempat
dijawab, mereka menutup telponnya. Sialan, pulsanya kurang kali. Tapi, nggak
boleh seenaknya gitu dong, kayak nggak punya sopan santun saja, nggak diajarin
kali yee. Lho kok aku jadi senewen begini. Mereka kan udah biasa ngelakuin
semua ini.
Klakson
mobil Naya terdengar dari luar rumah. Sepertinya kuntilanak itu sudah datang.
Dan, aku apa dong? Nggak ah, ngawur banget sih aku.
“Hai kunyuk belom ganti
pakaian ya? Tapi udah mandi kan?”
Semprot mereka dari
dalam mobil. Tentu saja aku jadi cemberut dikatain kunyuk, tega banget sih
mereka? Cantik-cantik begini juga manis pula. Tanpa menjawab pertanyaan mereka,
Ocha langsung berlari ke dalam kamar mencari Bunda. Semoga Bunda ngijinin aku
pergi. Pikirku.
“Bunda,
Ocha mau minta ijin ke luar bareng teman-teman, boleh ya?’ aku merengek
mengeluarkan jurus ampuh. Dengan berat hati, Bunda mengijinkan juga dengan
petuah sepanjang rel kereta api. Setelah berganti pakaian dan berpamitan,
berangkaaaaaaat. Dan, astaga kebiasaan Naya mengemudi mobil dengan kecepatan
tinggi. Tak bisa juga diubah. Hampir saja mobilnya menabrak pedagang kaki lima
yang berjejeran di sepanjang jalan
Cendrewasih ke Pantai Losari.
“Nay,
pelan-pelan dong. Kamu mau kita mati muda? Rugi dong dunia akhirat,” ujarku
menasihatinya dengan nada bercanda. Tetapi, dasar Naya, masuk telinga kanan ke
luar telinga kiri, tetap saja mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi.
Kami
tiba di pantai tepat pukul 09.20 wita. Akhirnya sampai juga dengan selamat.
Kami menghembuskan nafas dalam-dalam. Gimana nggak sih, hampir saja Naya
mencopot nyawa kami gara-gara kelakuan brutalnya mengemudikan mobil.
“Hey,
turun yuk, mereka udah nungguin tuh di pinggir,” seraya menunjuk ke pinggir
pantai. Di sana, ada 5 cowok yang kelihatan bete karena nungguin kita. Upss..
ada sosok coolnya kak Fais. Dia melambaikan tangannya dan melempar senyum
manisnya ke arah kami dan pastinya aku dong yang paling manis ( GR banget sih
aku). By the way, kenapa dia ada di sini ya? tumben banget kak Fais ikut bareng
cowok-cowok gokil itu. Ifan…Ichal...Temmy, dan Rudi? What’s wrong ya?
Tanpa
sadar aku telah berada di depan mereka, melihat tingkahku bengong seperti itu.
Ifan sengaja menyentil hidungku yang emang dasarnya mancung ke dalam.
“What’s up girl? Kayak
kerasukan setan aja !!”
Tentu
saja Ocha tersontak kaget akibat ulah Ifan. Ocha mengomel panjang lebar ke Ifan
disertai tertawaan serentak dari teman-teman. Kak Fais juga. Dia hanya
tersenyum melihat ulah adiknya, Ifan emang paling doyan banget kalo menjahili
Ocha
“Nay,
kok kamu nggak bilang sih kalo kak Fais datang juga? Curang lho ya?” seruku
seraya berbisik di telinga Naya.
Semprulll...
Naya tak menanggapiku, malahan mendekati kak Fais dan yang lainnya.
“Guys,
katanya kita mo jalan-jalan, kok cuma bengong di sini? jalan yuk ke sana”,
ujarnya seraya menunjuk ke pinggir pantai. Sudah sepi.
Akhirnya,
kami menuruti ajakannya Naya. Seperti biasa Ifan jalan beriringan dengan uni.
Mereka berdua kan kekasih sejati. Sementara itu, yang lain berjalan di depan
sambil bercanda ria. Tanpa mempedulikan keberadaanku dengan kak Fais. Mereka
terus saja berlari ke depan. Sepertinya sengaja membiarkanku berduaan
dengannya. Mungkin ini kejutan yang dikatakan Naya cs tempo hari. Aduh,
kira-kira ada apa ya?
Setelah
terdiam cukup lama, akhirnya kak Fais membuka mulutnya lega untuk mulai
pembicaraan.
“Cha, gimana sekolahmu,
lancar-lancar aja khan?” tanya kak Fais sambil melirik ke arahku dan tersenyum
manis. Duh, manis banget, (gula kali manis). Kok aku jadi geregetan dan nervous gini sih? Jangan sampe’ ketahuan kak Fais deh. Dengan bibir agak gemetar, Ocha
menjawab pertanyaannya.
“Lumayan
kak, tapi PR nya numpuk, sampe’-sampe’ badanku kadang pegal, bahkan kalo bisa,
hampir remuk kali,” ujarku dengan nada bercanda, tentu saja kak Fais tertawa
mendengar ocehanku.
“Kamu
lucu juga ya cha, aku baru tahu lho. Ifan kok nggak pernah bilang kalo kamu
bisa lucu seperti itu.”
Ocha jadi manyun
dibilangin lucu sama kak Fais. Dikiranya aku pelawak, sepertinya kak Faiz sadar
kalo’ Ocha tersinggung. Dia akhirnya minta maaf dan mengatakan cuma bergura.
“Cha, Ifan dan yang lain ke mana ya, mereka kok
ninggalin kita sih?”
“Nggak tau,”
Ocha pura-pura nggak
tahu, padahal sih Ocha tahu kalo’ mereka sengaja ninggalin Ocha dan kak Fais,
biar bisa bicara lebih lama.
“Cha, ngomong-ngomong,
kamu udah punya pacar ya?”
Pertanyaan itu membuat
Ocha tersentak kaget. Ocha bingung mau jawab apa, bilang ya atau nggak, tapi
dasarnya sih Ocha punya, si Reno, anak SMANSA. Tetapi, mereka berdua jarang
bertemu. Lagipula kalo’ Ocha bilang nggak, kak Fais belum tentu suka dan
nyatain perasaannya. Ocha sadar kalau nggak mungkin jadi pacar kak Faiz, dia
terkenal introvert dengan cewek-cewek
di sekolah dulu, meskipun begitu, banyak cewek cantik yang notabenenya gaul ngejar-ngejar kak Fais. Aduh, jadi
bingung, jawab apa ya? masih memikirkan jawaban yang tepat, kak Fais malah
megang pundak Ocha dan mata Bollak sayunya semakin tajam, seolah ingin menelan
Ocha dengan nyata. semakin membingungkan.
"Apa lagi ini.
Aliran darahku berdesir, jantungku berdetak kencang, aku semakin salah tingkah.
Mungkin saja mukaku kayak kepiting rebus saat ini." Pikir batin Ocha.
“Cha, kamu dengar nggak
pertanyaanku?”
Kak Faiz mencoba
mendesak. Ocha mencoba menenangkan hatinya. Mengatur detak jantungnya yang
berkejar-kejaran tanpa ingin dihentikan.
“Nggak ada, emangnya
ada apa kak, mau ngedaftar ya?”
Ocha
merendahkan volume suaranya dan mencoba bergurau agar dia tak ketahuan nervous
begini. Wajah oval itu berpaling ke arah lain. Pandangan matanya disembunyikan
begitu saja. Detak jantung berdegup begitu keras. Dalam hitungan detik, dia
mencium Ocha. Kontan saja Ocha kaget. Seperti tersengat listrik. Tak percaya
atas apa yang terjadi barusan. Finally, Ocha tertunduk malu menyembunyikan muka
meronanya. "Duh, gusti ALLAH, makasih atas rezki yang Engkau berikan
padaku pagi ini. Apaan sih, kok jadi ngayal gini."
“Kak Fais apaan sih,
nggak malu ya diliatin orang?” ujar Ocha sambil melongok kiri kanan, jangan
sampe’ ketahuan sama yang lain. Bisa jadi bahan ledekan seharian penuh.
Untungnya aman.
Kak Fais malahan
tersenyum penuh kemenangan melihat tingkah Ocha salah tingkah.
“Cha, aku suka sama
kamu, boleh kan jadi pacarmu?”
“Tapi….” Baru saja akan
melanjutkan kalimatnya, kak Fais keburu menyela..
“Aku hanya butuh
jawaban, ya atau tidak!!”
Ocha jadi bingung
sendiri nggak tahu harus jawab apa. Terima nggak ya? dengan suara agak kikuk
dan kaku.
“Kak Fais beneren suka
aku? Becanda kali!”
Tetap saja Ocha
pura-pura bego untuk menutupi kekacauan hatinya yang sudah ingin diledakkan
itu.
“Aku nggak bercanda
Cha, aku serius sama kamu. Aku sudah lama memperhatikanmu sejak kamu berteman
dengan Ifan cs. Aku pikir kamulah cewek yang paling tepat buat aku, sampe’ aku
terobsesi banget tuk ngedapetin kamu tanpa sepengetahuan kamu”.
Kak
Fais cerita panjang lebar. Sebenarnya Ocha sih nggak masalah, sebab notabenenya
dia juga suka sama kak Fais. Tetapi, bagaimana dengan Reno? Cowok yang
dipacarinya hampir setahun ini. Meskipun sekadar pelampiasan saja sama Reno,
tapi akan sulit menjelaskannya agar bisa
putus darinya. "Ah, masa bodoh, kesempatan untuk deketan kak Fais udah ada
di depan mata, hanya datang satu kali lho… lagipula, selama ini aku tak
bertepuk sebelah tangan, dia juga menyambutnya tanpa sepengetahuannya juga.
Atau jangan-jangan Uni cs yang bilang ke Ifan dan Ifan yang menyampaikannya.
Dasar cecunguk sialan. Tetapi kok, mikirin mereka sih. Keberadaannya saja mereka aku nggak
tahu." Pikirnya membatin.
“Sebenarnya sih Ocha
juga sayang sama kakak…”
Belum
selesai ucapannya, tanpa ba bi bu lagi, kak Fais memeluknya erat tanpa permisi dan
mengucapkan thank U berulangkali.
Ocha hampir saja berteriak diberi aksi dadakan begitu. kaget melihat tingkahnya
kayak anak kecil. Debaran jantung Ocha berdetak kencang lagi, tubuhnya bergetar
serasa ada aliran listrik menyetrumnya. Sedang asyik gitu, eh maksudnya
dipeluk. Tampak dari kejauhan, mereka bersorak dan bersiul menggoda kami.
“Duh yang lagi jatuh
cinta, lupa ya sama kita-kita? Emang sih, kalo’ udah jatuh cinta, dunia serasa
milik berdua, lalu kita di kemanain dong??”
Kontan
saja tawa yang lain meledak akibat ledekan Ichal. Ocha hanya bisa tersipu
sekaligus menggerutu dalam hati melihat ulah mereka. Kak Fais tampak adem ayem
saja mendengar ocehannya.
******
Suara
merdu Ariel Peterpan lewat lagunya’ Semua Tentang Kita’ yang mengalun indah di
MP3 komputer telah berakhir membuyarkan lamunan gadis itu. Dia tersenyum getir
mengingat kenangan itu. Tanpa sadar, tangannya bergerak pelan menekan tuuts
komputer.
Dear diary Wednesday,
22nd February
Masa laluku tidak pernah bisa melepaskanku. Aku semakin
terjerat di dalamnya. Entah kapan waktu itu akan datang menjemputku tuk keluar
dari kubangan kelam ini. Aku sudah tak kuasa menahannya. Menariknya lagi ,aku
lelah. Sekali waktu inginku berlari untuk menghindari semua ini. Tetapi selalu
saja ku ditariknya hingga aku semakin terjatuh dan terjatuh. Orang bijak
mengatakan semakin sering kita terjatuh, kita semakin tidak merasakan sakit.
Dan saat inipun. Aku ingin berkata aku belum puas terjatuh agar tegar itu bisa
mencapaiku. Meskipun sangat sulit tuk mewujudkannya. Diam-diam aku selalu
berusaha ingin mewujudkan impianku. Aku sadar kalo’ waktunya masih akan lama
untuk bisa meloloskan diriku dari jeratan tali ini. Namun, aku yakin suatu saat
hari itu akan tiba.
Gadis
itu berhenti sejenak mengamati tulisannya. Begitu terlukakah hatinya untuk
seorang lelaki bernama kak Faiz? Dia melirik jam yang terpampang di dinding
kamar berukuran 4 x 5 meter. Sudah pukul 1 malam. Rupanya sudah larut malam.
Anjing tetangga menggonggong begitu nyaring. Suasana rumah kosanku menjadi
senyap dan lengang. Tak terdengar lagi bunyi radio yang keras dari kamar
sebelah. Mereka sudah terlelap. Entah apa yang diimpikannya. Gadis itu
mematikan monitor komputer dan segera bergegas ke tempat tidur untuk
menghilangkan penat setelah seharian beraktivitas.
Inilah hidup
Berperan dalam
suka pun duka
Sebagai jalan
melintang
Dalam pelukan
dunia.
*Bersambung........ ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar