Minggu, 07 Oktober 2012

Ketika Kau Hadir : Part 2>> Lanjutan




Huft. Akhirnya tiba di rumah juga. Ocha menjadi pembalap sepeda nomor satu. Duh, pukul 08.59 wita, akan ada pembantaian dari Naya kalo dia terlambat lagi. Baru saja Ocha melangkahkan kaki memasuki rumah, tiba-tiba telepon rumah berdering keras mengagetkannya. Kontan saja Ocha melompat tinggi dan langsung mengangkatnya.
Kring…!! Kring..!!
“Halo.. siapa nih?!!”
“Eh kampret, kamu masih di rumah ya, kami jemput ya? udah di jalan nih”.
Tuut . Tanpa sempat dijawab, mereka menutup telponnya. Sialan, pulsanya kurang kali. Tapi, nggak boleh seenaknya gitu dong, kayak nggak punya sopan santun saja, nggak diajarin kali yee. Lho kok aku jadi senewen begini. Mereka kan udah biasa ngelakuin semua ini.
Klakson mobil Naya terdengar dari luar rumah. Sepertinya kuntilanak itu sudah datang. Dan, aku apa dong? Nggak ah, ngawur banget sih aku.
“Hai kunyuk belom ganti pakaian ya? Tapi udah mandi kan?”
Semprot mereka dari dalam mobil. Tentu saja aku jadi cemberut dikatain kunyuk, tega banget sih mereka? Cantik-cantik begini juga manis pula. Tanpa menjawab pertanyaan mereka, Ocha langsung berlari ke dalam kamar mencari Bunda. Semoga Bunda ngijinin aku pergi. Pikirku.
“Bunda, Ocha mau minta ijin ke luar bareng teman-teman, boleh ya?’ aku merengek mengeluarkan jurus ampuh. Dengan berat hati, Bunda mengijinkan juga dengan petuah sepanjang rel kereta api. Setelah berganti pakaian dan berpamitan, berangkaaaaaaat. Dan, astaga kebiasaan Naya mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi. Tak bisa juga diubah. Hampir saja mobilnya menabrak pedagang kaki lima yang berjejeran di sepanjang jalan  Cendrewasih ke Pantai Losari.
“Nay, pelan-pelan dong. Kamu mau kita mati muda? Rugi dong dunia akhirat,” ujarku menasihatinya dengan nada bercanda. Tetapi, dasar Naya, masuk telinga kanan ke luar telinga kiri, tetap saja mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi.
Kami tiba di pantai tepat pukul 09.20 wita. Akhirnya sampai juga dengan selamat. Kami menghembuskan nafas dalam-dalam. Gimana nggak sih, hampir saja Naya mencopot nyawa kami gara-gara kelakuan brutalnya mengemudikan mobil.
“Hey, turun yuk, mereka udah nungguin tuh di pinggir,” seraya menunjuk ke pinggir pantai. Di sana, ada 5 cowok yang kelihatan bete karena nungguin kita. Upss.. ada sosok coolnya kak Fais. Dia melambaikan tangannya dan melempar senyum manisnya ke arah kami dan pastinya aku dong yang paling manis ( GR banget sih aku). By the way, kenapa dia ada di sini ya? tumben banget kak Fais ikut bareng cowok-cowok gokil itu. Ifan…Ichal...Temmy, dan Rudi? What’s wrong ya?
Tanpa sadar aku telah berada di depan mereka, melihat tingkahku bengong seperti itu. Ifan sengaja menyentil hidungku yang emang dasarnya mancung ke dalam.
“What’s up girl? Kayak kerasukan setan aja !!”
Tentu saja Ocha tersontak kaget akibat ulah Ifan. Ocha mengomel panjang lebar ke Ifan disertai tertawaan serentak dari teman-teman. Kak Fais juga. Dia hanya tersenyum melihat ulah adiknya, Ifan emang paling doyan banget kalo menjahili Ocha
“Nay, kok kamu nggak bilang sih kalo kak Fais datang juga? Curang lho ya?” seruku seraya berbisik di telinga Naya.
Semprulll... Naya tak menanggapiku, malahan mendekati kak Fais dan yang lainnya.
“Guys, katanya kita mo jalan-jalan, kok cuma bengong di sini? jalan yuk ke sana”, ujarnya seraya menunjuk ke pinggir pantai. Sudah sepi.
Akhirnya, kami menuruti ajakannya Naya. Seperti biasa Ifan jalan beriringan dengan uni. Mereka berdua kan kekasih sejati. Sementara itu, yang lain berjalan di depan sambil bercanda ria. Tanpa mempedulikan keberadaanku dengan kak Fais. Mereka terus saja berlari ke depan. Sepertinya sengaja membiarkanku berduaan dengannya. Mungkin ini kejutan yang dikatakan Naya cs tempo hari. Aduh, kira-kira ada apa ya?
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya kak Fais membuka mulutnya lega untuk mulai pembicaraan.
“Cha, gimana sekolahmu, lancar-lancar aja khan?” tanya kak Fais sambil melirik ke arahku dan tersenyum manis. Duh, manis banget, (gula kali manis). Kok aku jadi geregetan  dan nervous gini sih? Jangan sampe’ ketahuan  kak Fais deh. Dengan bibir agak gemetar, Ocha menjawab pertanyaannya.
“Lumayan kak, tapi PR nya numpuk, sampe’-sampe’ badanku kadang pegal, bahkan kalo bisa, hampir remuk kali,” ujarku dengan nada bercanda, tentu saja kak Fais tertawa mendengar ocehanku.
“Kamu lucu juga ya cha, aku baru tahu lho. Ifan kok nggak pernah bilang kalo kamu bisa lucu seperti itu.”
Ocha jadi manyun dibilangin lucu sama kak Fais. Dikiranya aku pelawak, sepertinya kak Faiz sadar kalo’ Ocha tersinggung. Dia akhirnya minta maaf dan mengatakan cuma bergura.
“Cha, Ifan  dan yang lain ke mana ya, mereka kok ninggalin kita sih?”
“Nggak tau,”
Ocha pura-pura nggak tahu, padahal sih Ocha tahu kalo’ mereka sengaja ninggalin Ocha dan kak Fais, biar bisa bicara lebih lama.
“Cha, ngomong-ngomong, kamu udah punya pacar ya?”
Pertanyaan itu membuat Ocha tersentak kaget. Ocha bingung mau jawab apa, bilang ya atau nggak, tapi dasarnya sih Ocha punya, si Reno, anak SMANSA. Tetapi, mereka berdua jarang bertemu. Lagipula kalo’ Ocha bilang nggak, kak Fais belum tentu suka dan nyatain perasaannya. Ocha sadar kalau nggak mungkin jadi pacar kak Faiz, dia terkenal introvert dengan cewek-cewek di sekolah dulu, meskipun begitu, banyak cewek cantik yang notabenenya  gaul ngejar-ngejar kak Fais. Aduh, jadi bingung, jawab apa ya? masih memikirkan jawaban yang tepat, kak Fais malah megang pundak Ocha dan mata Bollak sayunya semakin tajam, seolah ingin menelan Ocha dengan nyata. semakin membingungkan.
"Apa lagi ini. Aliran darahku berdesir, jantungku berdetak kencang, aku semakin salah tingkah. Mungkin saja mukaku kayak kepiting rebus saat ini." Pikir batin Ocha.
“Cha, kamu dengar nggak pertanyaanku?”
Kak Faiz mencoba mendesak. Ocha mencoba menenangkan hatinya. Mengatur detak jantungnya yang berkejar-kejaran tanpa ingin dihentikan.
“Nggak ada, emangnya ada apa kak, mau ngedaftar ya?”
Ocha merendahkan volume suaranya dan mencoba bergurau agar dia tak ketahuan nervous begini. Wajah oval itu berpaling ke arah lain. Pandangan matanya disembunyikan begitu saja. Detak jantung berdegup begitu keras. Dalam hitungan detik, dia mencium Ocha. Kontan saja Ocha kaget. Seperti tersengat listrik. Tak percaya atas apa yang terjadi barusan. Finally, Ocha tertunduk malu menyembunyikan muka meronanya. "Duh, gusti ALLAH, makasih atas rezki yang Engkau berikan padaku pagi ini. Apaan sih, kok jadi ngayal gini."
“Kak Fais apaan sih, nggak malu ya diliatin orang?” ujar Ocha sambil melongok kiri kanan, jangan sampe’ ketahuan sama yang lain. Bisa jadi bahan ledekan seharian penuh. Untungnya aman.
Kak Fais malahan tersenyum penuh kemenangan melihat tingkah Ocha salah tingkah.
“Cha, aku suka sama kamu, boleh kan jadi pacarmu?”
“Tapi….” Baru saja akan melanjutkan kalimatnya, kak Fais keburu menyela..
“Aku hanya butuh jawaban, ya atau tidak!!”
Ocha jadi bingung sendiri nggak tahu harus jawab apa. Terima nggak ya? dengan suara agak kikuk dan kaku.
“Kak Fais beneren suka aku? Becanda kali!”
Tetap saja Ocha pura-pura bego untuk menutupi kekacauan hatinya yang sudah ingin diledakkan itu.
“Aku nggak bercanda Cha, aku serius sama kamu. Aku sudah lama memperhatikanmu sejak kamu berteman dengan Ifan cs. Aku pikir kamulah cewek yang paling tepat buat aku, sampe’ aku terobsesi banget tuk ngedapetin kamu tanpa sepengetahuan kamu”.
Kak Fais cerita panjang lebar. Sebenarnya Ocha sih nggak masalah, sebab notabenenya dia juga suka sama kak Fais. Tetapi, bagaimana dengan Reno? Cowok yang dipacarinya hampir setahun ini. Meskipun sekadar pelampiasan saja sama Reno, tapi akan sulit  menjelaskannya agar bisa putus darinya. "Ah, masa bodoh, kesempatan untuk deketan kak Fais udah ada di depan mata, hanya datang satu kali lho… lagipula, selama ini aku tak bertepuk sebelah tangan, dia juga menyambutnya tanpa sepengetahuannya juga. Atau jangan-jangan Uni cs yang bilang ke Ifan dan Ifan yang menyampaikannya. Dasar cecunguk sialan. Tetapi kok, mikirin mereka  sih. Keberadaannya saja mereka aku nggak tahu." Pikirnya membatin.
“Sebenarnya sih Ocha juga sayang sama kakak…”
Belum selesai ucapannya, tanpa ba bi bu lagi, kak Fais memeluknya erat tanpa permisi dan mengucapkan thank U berulangkali. Ocha hampir saja berteriak diberi aksi dadakan begitu. kaget melihat tingkahnya kayak anak kecil. Debaran jantung Ocha berdetak kencang lagi, tubuhnya bergetar serasa ada aliran listrik menyetrumnya. Sedang asyik gitu, eh maksudnya dipeluk. Tampak dari kejauhan, mereka bersorak dan bersiul menggoda kami.
“Duh yang lagi jatuh cinta, lupa ya sama kita-kita? Emang sih, kalo’ udah jatuh cinta, dunia serasa milik berdua, lalu kita di kemanain dong??”
Kontan saja tawa yang lain meledak akibat ledekan Ichal. Ocha hanya bisa tersipu sekaligus menggerutu dalam hati melihat ulah mereka. Kak Fais tampak adem ayem saja mendengar ocehannya.
 
                                              ******
Suara merdu Ariel Peterpan lewat lagunya’ Semua Tentang Kita’ yang mengalun indah di MP3 komputer telah berakhir membuyarkan lamunan gadis itu. Dia tersenyum getir mengingat kenangan itu. Tanpa sadar, tangannya bergerak pelan menekan tuuts komputer.

Dear diary                                                                      Wednesday, 22nd February
Masa laluku tidak pernah bisa melepaskanku. Aku semakin terjerat di dalamnya. Entah kapan waktu itu akan datang menjemputku tuk keluar dari kubangan kelam ini. Aku sudah tak kuasa menahannya. Menariknya lagi ,aku lelah. Sekali waktu inginku berlari untuk menghindari semua ini. Tetapi selalu saja ku ditariknya hingga aku semakin terjatuh dan terjatuh. Orang bijak mengatakan semakin sering kita terjatuh, kita semakin tidak merasakan sakit. Dan saat inipun. Aku ingin berkata aku belum puas terjatuh agar tegar itu bisa mencapaiku. Meskipun sangat sulit tuk mewujudkannya. Diam-diam aku selalu berusaha ingin mewujudkan impianku. Aku sadar kalo’ waktunya masih akan lama untuk bisa meloloskan diriku dari jeratan tali ini. Namun, aku yakin suatu saat hari itu akan tiba.
            Gadis itu berhenti sejenak mengamati tulisannya. Begitu terlukakah hatinya untuk seorang lelaki bernama kak Faiz? Dia melirik jam yang terpampang di dinding kamar berukuran 4 x 5 meter. Sudah pukul 1 malam. Rupanya sudah larut malam. Anjing tetangga menggonggong begitu nyaring. Suasana rumah kosanku menjadi senyap dan lengang. Tak terdengar lagi bunyi radio yang keras dari kamar sebelah. Mereka sudah terlelap. Entah apa yang diimpikannya. Gadis itu mematikan monitor komputer dan segera bergegas ke tempat tidur untuk menghilangkan penat setelah seharian beraktivitas.

Inilah hidup
Berperan dalam suka pun duka
Sebagai jalan melintang
Dalam pelukan dunia.


*Bersambung........ ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar