Sabtu, 06 Oktober 2012

Resensi novel ‘CINTA ZOYA DI UJUNG SENJA’



A Novel BY RIANTY TAYU SYAFNA
“aku menunggu seseorang ketika hari senja
sampai datang padaku gelap dan
meyakinkannya tiada” (Faizy L)
                Zoya Putri Irana. Wanita berusia 24 tahun dengan segala kesempurnaan yang dimilikinya. Kecantikan fisik, disenangi banyak teman dalam bergaul dan karir yang bagus sebagai dosen muda yang cantik, energik, dan pintar. Akan tetapi, kehidupan pribadinya tak semulus dengan dengan perjalanan cintanya yang selalu berakhir dengan keperihan yang menikam hatinya. Ada empat nama pria silih berganti mengisi hidupnya dalam jarak waktu yang berjauhan. Rangga Adisaputra, cinta pertamanya, seorang Polisi yang bertugas di Palangkayu, Perbatasan Sul Bar dan Palu. Zoya harus merelakan kekasihnya itu menikah di pertengahan tahun lalu, hanya dikarenakan mamanya tidak menyetujui anaknya berhubungan dengan seorang pria bernama polisi. Alasannya, mereka adalah playboy dan tidak mampu membahagiakanmu. Lalu, Rasya Din Anugrah, seorang mahasiswa pasca sarjana Jurusan Ekonomi. Seorang pria yang kembali membuatnya percaya akan cinta setelah 3 tahun tak ingin bersentuhan dengan cinta dan pria atau menutup hatinya untuk cinta. Namun, pertemuan pertama yang tak disangkanya dan cukup menyebalkan itu membuatnya harus jatuh cinta lagi. namun, akhirnya diketahuinya kalau orang yang awalnya sangat dibencinya itu adalah sudah bertunangan. Hal ini membuat Zoya semakin membenci cinta. Inilah pula awal Zoya mulai bermain dengan cinta. Setiap ada pria yang mendekatinya, dia memberinya harapan tanpa berniat memacarinya. Alasannya Cuma satu, ingin membuat Rasya tahu, bahwa laki-laki bukan hanya dirinya dan yang bisa menunjukkan kemesraan bukan hanya dirinya saja, tapi Zoya pun mampu melakukan itu. Dan, cara ini berhasil membuat Rasya jatuh cinta kepadanya setelah setahun Zoya harus menahan perih melihat kemesraan itu di kampusnya tiap kali mereka bertemu. Dan, sekali lagi, cintanya kandas, Rasya lebih memilih menikah dengan mantan tunangannya itu. Zoya ikhlas dan malah menghadiri pesta pernikahannya meski tdak diundang oleh Rasya. Sungguh, gempa kecil terjadi di hatinya.
Lalu hadirlah Deded Al fayed, seorang dokter yang mengambil spesialisasi obgin di Jakarta, pria ini sejak tahun pertama Zoya berkuliah di UNJ, dia selalu mengharap cinta Zoya, tapi hingga kini pun, bahkan Zoya telah menyelesaikan kuliahnya, hati Zoya pun sekeras batu, sebeku salju tak juga mencair untuknya. Entahlah, padahal mas Deded adalah pria yang selama ini selalu menyemangatinya. Yang paling tahu kisah cintanya dengan Rasya segetir apa. Menampung tangis Zoya jika dia terluka. Dan Deded pun, tetap tak juga bisa meraih hatinya. Mungkinkah nanti? Di tengah-tengah usaha Deded meluluhkan hati Zoya, kehadiran Lingga Arwana, seorang dosen di salah satu PTN terkemuka di  Makassar membuat zoya mampu bangkit lagi dari lingkaran setan tentang cinta yang selalu membuatnya kecewa. Namun, Cintanya hanya 8 bulan. Meski tak mencintainya sepenuhnya, tapi Zoya berusaha menjalaninya dengan harapan kelak ketulusan Lingga bisa membuatnya percaya bahwa dicintai lebih indah daripada mencintai tanpa ada balasan. Tapi, semua keyakinan itu harus di telannya mentah-mentah, sebab dia harus merelakan cintanya itu demi sebuah keutuhan atas nama persahabatan. Zoya memilih sendiri. Memilih melanjutkan karirnya. Gila kerja. Yah, itulah julukan dari sahabat-sahabatnya.
Kekecewaan demi kekecewaan di telannya mentah-mentah. Bulshitt dengan pria dan cinta. Namun, di tengah ketidakpercayaannya terhadap pria dan cinta lagi, muncullah Rayen Faris, seorang anggota polisi di Sulawesi Tengah yang dikenalnya via dunia maya. Mengakui dirinya telah bercerai dengan istrinya. Entah, ada getaran yang dahsyat dan ada kesedihan yang menikam hatinya ketika Rayen menceritakan masa lalunya yang membuatnya iba. Keihklasan untuk menerimanya pun muncul meski dengan status ‘DUREN’. Sejak putus dengan Lingga, selama 8 bulan lalu, Zoya harus menjalani hidupnya dengan kesendirian yang membelenggunya. Dia terkapar dengan cintanya yang tak pernah berakhir bahagia. Menolak sekian penasbih cinta yang datang padanya hanya alasan tak mudah hatinya jatuh cinta. Sebab, Pria itu harus benar-benar membuatnya senyaman mungkin. Parahnya, ketika mempercayakan hatinya kembali untuk cinta, Dia malah terjebak ke sarang harimau. Pria yang membuatnya percaya bahwa inilah pelabuhan terakhirnya ternyata seorang playboy cap katak. Zoya sungguh shock. Akankah perjalanan cintanya dengan Rayen berakhir bahagia ataukah haruskah menerima cinta Deded yang tidak pernah meluruh padanya? Ataukah hanya sekedar angan dan impian Deded semata untuk mendapatkan cinta Zoya, seorang gadis yang terlalu sempurna di matanya? Entahlah, hanya Tuhan dan Zoya yang tahu. Kini, Zoya hanya percaya bahwa cintanya yang utuh hanyalah pada Tuhannya, dan pekerjaannya saat ini. 

Catatan: Ini Rancangan Novel Ketiga yang saya buat, Meski sebenarnya novel pertama dan kedua tidak pernah diterbitkan. Cerita dalam novel ini belum selesai saya lanjutkan, terpotong di tengah perjalanan disebabkan sesuatu yang sangat sensitif. Saya menuliskan resensinya untuk meminta kritik dan masukan yang membangun untuk melanjutkan cerita ini. :)


“Sore ini akan kujelang senja di sudut kamarku saja.
Bukan di Anjungan pantai bersamamu.
Bukan juga di sudut cafe laguna
Menanti matahari terbenam
dengan menyeruput jus alpukat.
Aku menikmati sendiriku kini
dengan ditemani kepungan rinduku padamu.
Kelak, jika kau disini, Aku sungguh ingin memeluk senja hanya denganmu saja.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar