Senin, 08 Oktober 2012

Ketika Kau Hadir :Part 2 >>> Akhir



            Pagi masih buta. Tak terdengar suara ayam jantan berkokok lagi. Tak terdengar pula omelan bunda atau ibu kost. Ocha masih pulas ketika Uni membangunkannya. Menggedor-gedor pintu kamar begitu keras. Aduh apaan sih, ganggu saja, hari inikan aku nggak ada kuliah. Jadi aku bisa istirahat cukup, bebenah kamar. Sungut gadis itu. Tetapi, itu nanti. Dengan mata masih terpejam, Ocha menyahut panggilan Uni.
“Ada apa sih, Ni?”
“Ada telpon Ifan dan Ichal. Mau diterima nggak? Katanya penting lho”.
Ah, Ichal dan Ifan, tumben banget mereka nelpon. Bukannya lagi sibuk dengan aktivitas kampusnya. Lalu, kabar penting apa sih, mungkin Uni hanya mengelabuiku  saja agar aku cepat bangun, aku lekas bangun dan membukakan pintu untuk Uni.
“Tumben nelpon, mau married ya?”
Ifan, dan Ichal adalah teman yang masih setia berbagi cerita dengan Ocha, mereka adalah sahabat yang masih tersisa untuk mendengarkan keluh kesahnya.
“Sudah jam tujuh non, masih molor saja kerjaannya, pantes berat badan tuh tambah melar, gimana bisa diet.” Omel mereka dari seberang. Ocha hanya mendongkol mendengar ledekan mereka di pagi hari, seperti biasa.
“Biarin, memangnya ada aturan baru ya kalo’ anak indekosan dilarang bangun kesiangan? Nggak ada kok, by the way, ada apa pake’ acara nelpon segala, masih ingat juga ya rupanya kalian berdua, cecunguk-cecunguk tengik”. Ocha membalas ejekan mereka. Rasain. Terdengar  suara mereka yang mendengus, agak jengkel, tak apalah, mereka yang duluan kok.
“Cha, ada acara nggak hari ini, kita jalan yuk, kami kangen berat nih”.
“Aduh, gimana ya, sebenarnya sih ada, tapi….”, Ocha menghentikan  ucapannya untuk membuat mereka penasaran. Mereka mulai mendesak.
“Tapi, apaan Cha, buruan dong, atau kamu nggak mau lagi jalan sama kita ya, udah bosan ya? ya sudah persahabatan kita berakhir di sini”. Terdengar nada kecewa dari hembusan nafasnya. Uh, kena kalian, dikerjain. Sekejap, Ocha tertawa terbahak-bahak hingga Uni melongok dari kamarnya karena penasaran.
“Rasain kalian, tadi itu aku kan belum lanjutin kalimatnya, maksudnya kalo’ kalian yang ngajak, aku sih oke saja, lagian aku nggak ada kuliah kok hari ini, mau ngajak kemana?”
“Dasar rese’ lo Cha, ngerjain kami berdua, kita ke MP ya? temanin aku belanja dong, cari  kado untuk Rara, dia ulang tahun nanti malam, aku nggak tahu ngasih kado apa, aku pikir kamu kan cewek, sejenis dengan dia, jadi pasti tau deh apa yang pas buat Rara, plis ya,” Ifan membujuk Ocha habis-habisan.
            Sejak hubungannya dengan Uni putus setahun yang lalu saat promnight sekolahan. Padahal semasa sekolahan, mereka berdua dikenal pasangan Romeo dan Juliet. Selalu bersama. Maklum, jabatan sebagai Ketua Osis dan sekretaris semakin mempopulerkan keduanya. Malang tak dapat dihalangi, keduanya berpisah karena alasan pihak ketiga. Dug, kayak selebriti ajah, putus karena pihak ketiga. Lalu, Ifan pacaran dengan Rara, anak STMIK.Wajahnya sih aku nggak pernah liat. Tapi kata Ichal, orangnya lumayan cantik. Gaul pula. Meskipun mereka sudah putus, bukan berarti persahabatan mereka akan terputus juga. Kami tetap berkomunikasi by phone, begitu pun dengan Uni dan Ifan.
“Aku sih mau, tapi kamu jemput aku ke sini ya jam 10, Uni boleh ikut kan?” tanya Ocha menggoda Ifan. Mendengar namanya disebut, Uni melongok dari dalam kamarnya. Bertanya mengapa namanya disebut juga, Ocha bilang kalo’ dia mau ikut nggak ke Mal cari kado untuk pacarnya Ifan.
“Cha, aku boleh ngomong nggak dengan Uni?” pintanya dari seberang.
“Ya bolehlah, nih Uni-nya juga udah ngebet banget pengen bicara sama kamu,” Ocha menyerahkan gagang telpon ke Uni, dan bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Terdengar tawa cekikikan Uni dari luar. Asyik sekali pembicaraannya dengan Ifan dan Ichal, apa yang diomongin ya? Ocha semakin penasaran dan mendekati Uni.
“Kalian ngobrolin apaan sih?” seraya mendekatkan telinga ke gagang telpon. Seru sekali.
*******

Pukul 10. 30 wita di Mal
            Seorang gadis dan 2 orang pria berjalan dengan santai memasuki ruangan Mal. AC-nya membuat tubuuh gadis itu harus merapatkan sweater di badannya yang tak pernah dilepas sewaktu turun dari motor tadi. Pengunjung mal juga belum terlalu banyak berseliweran. Anak-anak sekolah pun belum datang ngecengin outlet-outlet. Para SPG pun belum banyak yang siap melayani. Mereka menaiki lantai 2 dengan eskalator yang tersedia. Satu persatu counter pun dimasuki, namun belum ada satupun yang cocok buat selera Ifan, eh, selera Ifan atau pacarnya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk masuk ke outlet tas’ ELIZABETH’. Ifan menanyai gadis itu barang yang cocok buat Rara. Aku menggeleng. Ifan langsung cemberut, tapi gadis itu langsung memaksa untuk menyebutkan ciri-cirinya. Setelah itu, dia memilihkan tas yang mungil untuknya dan Ifan langsung menyetujuinya. Dan, Ichal hanya mengangguk lemas. Katanya sih, cukup unik. Mreka akhirnya ke kasir membayar tagihannya.
            Setelah lama berkeliling hingga ke lantai 3, perut Ichal berbunyi kriuk minta diisi. Kami pun tertawa bersamaan. Langsung saja Ocha tanpa sungkan menarik mereka ke resto yang terkenal enak dan terletak di lantai 1.
“Cha, ngomong-ngomong, kamu sudah dapat pengganti kakakku belum?” tanya seenaknya saja. Ocha terdiam mendengar pertanyaannya dan memalingkan muka ke sudut ruangan resto ini. Terlihat sepasang remaja berpegangan tangan sambil bergantian saling menyuapi. Tentu saja perutnya menjadi mual seketika dan tak berselera makan lagi. Baru saja beranjak dari tempat duduk, Ifan dan Ichal segera menahan tangan Ocha. Mereka jadi heran melihat tingkahnya langsung aneh dan berubah kayak begitu.
“Ada apa Cha, aku menyinggung perasaan kamu ya, sori, aku nggak ada maksud lain kok,” mereka meminta maaf dan tak akan mengulanginya lagi. Mereka membujuknya untuk makan lagi. Ocha menurutinya, tapi baru sesuap yang ditelannya, perutnya jadi mules dan kontan saja makanan dalam mulutnya dimuntahkan bersamaan dengan gejolak saat ini. Tentu saja, Ifan dan Ichal bersungut jengkel melihat ulahnya, yang telah mengenai baju mereka. Ocha merasa bersalah dan meminta maaf pada karena  tak sengaja.
“Fan, Chal, maaf ya, nggak sengaja, cepetan deh kalian bersihkan  di toilet, aku tunggu di sini ya!”
“Kamu sih enak minta maaf, tapi liat nih jadi blepotan,” omel Ifan seraya meninggalkannya menuju toilet di ujung kiri sana.
            Ada apa denganku? Mendengar nama kak Fais. Kok aku jadi begini? Meski pun aku berusaha melupakan sosoknya. Namun, tetap tak bisa. Bahkan untuk menggantikan posisinya pun tak  bisa kulakukan.

Katakan padaku
Dengan apa kusapu pelangi yang tertinggal
Jika pendar-pendar melati masih di sini
Dengan apa pula sesal ini kuhempas
Setelah se abad merana karenanya
Ingin kugenggam kembali
Tapi tak mampu
Ingin kuraih yang lain
Namun, tak kuasa
‘Perihku padamu’
‘ meraja bertalu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar