Pagi masih buta. Tak
terdengar suara ayam jantan berkokok lagi. Tak terdengar pula omelan bunda atau
ibu kost. Ocha masih pulas ketika Uni membangunkannya. Menggedor-gedor
pintu kamar begitu keras. Aduh apaan sih, ganggu saja, hari inikan aku nggak
ada kuliah. Jadi aku bisa istirahat cukup, bebenah kamar. Sungut gadis itu. Tetapi,
itu nanti. Dengan mata masih terpejam, Ocha menyahut panggilan Uni.
“Ada apa
sih, Ni?”
“Ada
telpon Ifan dan Ichal. Mau diterima nggak? Katanya penting lho”.
Ah, Ichal dan Ifan,
tumben banget mereka nelpon. Bukannya lagi sibuk dengan aktivitas kampusnya.
Lalu, kabar penting apa sih, mungkin Uni hanya mengelabuiku saja agar aku cepat bangun, aku lekas bangun
dan membukakan pintu untuk Uni.
“Tumben
nelpon, mau married ya?”
Ifan,
dan Ichal adalah teman yang masih setia berbagi cerita dengan Ocha, mereka
adalah sahabat yang masih tersisa untuk mendengarkan keluh kesahnya.
“Sudah
jam tujuh non, masih molor saja kerjaannya, pantes berat badan tuh tambah
melar, gimana bisa diet.” Omel mereka dari seberang. Ocha hanya mendongkol
mendengar ledekan mereka di pagi hari, seperti biasa.
“Biarin,
memangnya ada aturan baru ya kalo’ anak indekosan dilarang bangun kesiangan?
Nggak ada kok, by the way, ada apa
pake’ acara nelpon segala, masih ingat juga ya rupanya kalian berdua,
cecunguk-cecunguk tengik”. Ocha membalas ejekan mereka. Rasain. Terdengar suara mereka yang mendengus, agak jengkel,
tak apalah, mereka yang duluan kok.
“Cha,
ada acara nggak hari ini, kita jalan yuk, kami kangen berat nih”.
“Aduh,
gimana ya, sebenarnya sih ada, tapi….”, Ocha menghentikan ucapannya untuk membuat mereka penasaran.
Mereka mulai mendesak.
“Tapi,
apaan Cha, buruan dong, atau kamu nggak mau lagi jalan sama kita ya, udah bosan
ya? ya sudah persahabatan kita berakhir di sini”. Terdengar nada kecewa dari
hembusan nafasnya. Uh, kena kalian, dikerjain. Sekejap, Ocha tertawa
terbahak-bahak hingga Uni melongok dari kamarnya karena penasaran.
“Rasain
kalian, tadi itu aku kan belum lanjutin kalimatnya, maksudnya kalo’ kalian yang
ngajak, aku sih oke saja, lagian aku nggak ada kuliah kok hari ini, mau ngajak
kemana?”
“Dasar
rese’ lo Cha, ngerjain kami berdua, kita ke MP ya? temanin aku belanja dong,
cari kado untuk Rara, dia ulang tahun
nanti malam, aku nggak tahu ngasih kado apa, aku pikir kamu kan cewek, sejenis
dengan dia, jadi pasti tau deh apa yang pas buat Rara, plis ya,” Ifan membujuk Ocha habis-habisan.
Sejak hubungannya dengan Uni putus
setahun yang lalu saat promnight
sekolahan. Padahal semasa sekolahan, mereka berdua dikenal pasangan Romeo dan
Juliet. Selalu bersama. Maklum, jabatan sebagai Ketua Osis dan sekretaris
semakin mempopulerkan keduanya. Malang tak dapat dihalangi, keduanya berpisah
karena alasan pihak ketiga. Dug, kayak selebriti ajah, putus karena pihak
ketiga. Lalu, Ifan pacaran dengan Rara, anak STMIK.Wajahnya sih aku nggak
pernah liat. Tapi kata Ichal, orangnya lumayan cantik. Gaul pula. Meskipun
mereka sudah putus, bukan berarti persahabatan mereka akan terputus juga. Kami
tetap berkomunikasi by phone, begitu
pun dengan Uni dan Ifan.
“Aku sih
mau, tapi kamu jemput aku ke sini ya jam 10, Uni boleh ikut kan?” tanya Ocha
menggoda Ifan. Mendengar namanya disebut, Uni melongok dari dalam kamarnya. Bertanya
mengapa namanya disebut juga, Ocha bilang kalo’ dia mau ikut nggak ke Mal cari
kado untuk pacarnya Ifan.
“Cha,
aku boleh ngomong nggak dengan Uni?” pintanya dari seberang.
“Ya
bolehlah, nih Uni-nya juga udah ngebet banget pengen bicara sama kamu,” Ocha
menyerahkan gagang telpon ke Uni, dan bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka
dan sikat gigi. Terdengar tawa cekikikan Uni dari luar. Asyik sekali
pembicaraannya dengan Ifan dan Ichal, apa yang diomongin ya? Ocha semakin
penasaran dan mendekati Uni.
“Kalian
ngobrolin apaan sih?” seraya mendekatkan telinga ke gagang telpon. Seru sekali.
*******
Pukul 10. 30 wita di
Mal
Seorang gadis dan 2 orang pria berjalan
dengan santai memasuki ruangan Mal. AC-nya
membuat tubuuh gadis itu harus merapatkan sweater
di badannya yang tak pernah dilepas sewaktu turun dari motor tadi. Pengunjung
mal juga belum terlalu banyak berseliweran. Anak-anak sekolah pun belum datang
ngecengin outlet-outlet. Para SPG pun belum banyak yang siap melayani. Mereka menaiki
lantai 2 dengan eskalator yang
tersedia. Satu persatu counter pun dimasuki,
namun belum ada satupun yang cocok buat selera Ifan, eh, selera Ifan atau
pacarnya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk masuk ke outlet tas’ ELIZABETH’. Ifan menanyai gadis itu barang yang cocok
buat Rara. Aku menggeleng. Ifan langsung cemberut, tapi gadis itu langsung
memaksa untuk menyebutkan ciri-cirinya. Setelah itu, dia memilihkan tas yang
mungil untuknya dan Ifan langsung menyetujuinya. Dan, Ichal hanya mengangguk
lemas. Katanya sih, cukup unik. Mreka akhirnya ke kasir membayar tagihannya.
Setelah lama berkeliling hingga ke
lantai 3, perut Ichal berbunyi kriuk minta diisi. Kami pun tertawa bersamaan.
Langsung saja Ocha tanpa sungkan menarik mereka ke resto yang terkenal enak dan
terletak di lantai 1.
“Cha,
ngomong-ngomong, kamu sudah dapat pengganti kakakku belum?” tanya seenaknya
saja. Ocha terdiam mendengar pertanyaannya dan memalingkan muka ke sudut
ruangan resto ini. Terlihat sepasang remaja berpegangan tangan sambil
bergantian saling menyuapi. Tentu saja perutnya menjadi mual seketika dan tak
berselera makan lagi. Baru saja beranjak dari tempat duduk, Ifan dan Ichal
segera menahan tangan Ocha. Mereka jadi heran melihat tingkahnya langsung aneh
dan berubah kayak begitu.
“Ada apa
Cha, aku menyinggung perasaan kamu ya, sori,
aku nggak ada maksud lain kok,” mereka meminta maaf dan tak akan mengulanginya
lagi. Mereka membujuknya untuk makan lagi. Ocha menurutinya, tapi baru sesuap
yang ditelannya, perutnya jadi mules dan kontan saja makanan dalam mulutnya dimuntahkan
bersamaan dengan gejolak saat ini. Tentu saja, Ifan dan Ichal bersungut jengkel
melihat ulahnya, yang telah mengenai baju mereka. Ocha merasa bersalah dan
meminta maaf pada karena tak sengaja.
“Fan,
Chal, maaf ya, nggak sengaja, cepetan deh kalian bersihkan di toilet,
aku tunggu di sini ya!”
“Kamu
sih enak minta maaf, tapi liat nih jadi blepotan,” omel Ifan seraya
meninggalkannya menuju toilet di ujung kiri sana.
Ada apa denganku? Mendengar nama kak
Fais. Kok aku jadi begini? Meski pun aku berusaha melupakan sosoknya. Namun,
tetap tak bisa. Bahkan untuk menggantikan posisinya pun tak bisa kulakukan.
Katakan padaku
Dengan apa kusapu pelangi yang tertinggal
Jika pendar-pendar melati masih di sini
Dengan apa pula sesal ini kuhempas
Setelah se abad merana karenanya
Ingin kugenggam kembali
Tapi tak mampu
Ingin kuraih yang lain
Namun, tak kuasa
‘Perihku padamu’
‘ meraja bertalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar