Sabtu, 06 Oktober 2012

Ketika Kau Hadir



SaTu

*TAK banyak yang kuketahui tentang cinta, begitu pun dengan persahabatan. Prasangka, ego, dan kepicikan membungkus ragaku, dan inilah yang mengawali kisahku nan cukup berliku dalam siratan kehidupan.*

****
MaLaM baru saja berlalu, tergantikan oleh pagi dengan rona merahnya yang senantiasa menyapa di balik daun-daun akasia samping kamarku. Rasanya musim hujan bulan ini memberi nuansa sendu padaku, entah mengapa. Hawa dingin yang meningkat 25o Celcius seakan mengindik, bahkan menggetarkan ragaku, walau akhirnya kaki yang hampir membeku berhasil mengantarku ke kamar mandi. Byuuur!!! Guyuran air menggambarkan khayalku ke belahan bumi paling utara, tempat orang-orang Eskimo bermukim. Wuiihh! Betapa dinginnya, untung saja hatiku masih hangat.
Pukul 8.00 aku masih asyik beraksi di depan cermin sambil melantunkan tembang ‘Cobalah untuk Setia,’ milik diva kita Krisdayanti. Duh, menambah kesyahduan hari.
Tok…tok…tok…!
Suara ketukan tiba-tiba memotong tembang melo yang kunyanyikan Cha…Cha… terdengar teriakan dari balik pintu kamar kost-ku. 
“Yaa… “ sahutku sambil melangkah membuka pintu. Seraut wajah oval milik Reyta menyembul dari balik pintu, disertai senyum khasnya. Tanpa banyak cincong ia langsung menyeruak masuk dan duduk di tepi tempat tidur,
What’s up?” tanyaku pada Reyta di depan cermin
“Aku mau pinjam kemeja putihmu, boleh?” jawabnya.
 “Boleh-boleh saja tapi jangan lupa dideterjenin ya, alias dicuci habis pake ‘ntar, “sahutku sambil senyum.”
“Tenang aja selesai praktik di lab, bajumu aku cuci. Sekarang mana? Eh, sekalian dengan rok hitam.” Cerocosnya.
“Tuh, di lemari,” tunjukku. 
Setelah mengambil baju dan rok dari lemari, Reyta ngeloyor pergi usai mengucapkan ‘thanks a lot’ andalannya. Beberapa menit kemudian, aku selesai berias dan siap-siap ke kampus.
Dengan langkah santai, kususuri jalanan beraspal menuju kampus yang masih basah oleh siraman hujan semalam. Terlihat beberapa mahasiswa berjalan di depan dan di belakangku. Sesekali sepoi angin dingin mengibas tubuh kami.  Aku mendesah.
“Ocha.” Sebuah sapaan melayang ke indera pendengarku, aku pun menoleh.
“Eh, Kak Budi,” balasku sambil tersenyum
“Tumben jalannya santai,” tanyanya penuh selidik.
“Hari ini aku masuk jam ke-2, lagian tugasku juga sudah beres.”
“Oh. Emmm, tugas kok tambah hari tambah banyak ya?” tanyaku selidik.
“Ya iyalah Kak, bukan mahasiswa namanya kalo ’gak banyak tugas. Lagi pula, hakikat mahasiswa kan pemikir,” jawabku menjelaskan.
“Iya sih, tapi badanku rasanya mau hancur. Bayangkan tidur cuma tiga jam sehari semalam, remuk deh.”
Aku tersenyum. Wajah kuyu-nya mempertegas kata-kata tadi. Garis-garis hitam di bawah matanya memang terlukis sangat jelas. Tapi itulah perjuangan, boleh dibilang babak baru menuju masa depan. Jika kita bermalas-malas dan meremehkan segalanya hancurlah kita, lebih baik ucapkan saja sayonara pada masa depan yang gemilang dan itu artinya pelarian diri dari dogma manusia tangguh. Hidup memang butuh perjuangan. Ya… perjuangan manusia-manusia kekar dalam lingkup mental, rasa, imaji, pikiran, dan keterbukaan. Kami terus berjalan melewati barisan pohon-pohon akasia yang berjejer seakan menjemput kami di tepi jalan yang membelah area Fakultas Teknik dan Fakultas Bahasa. Tak lama kemudian langkah kami berpindah ke hamparan rumput hijau samping gedung kuliah berlantai tiga itu, terlihat beberapa temanku berbincang-bincang sambil menenteng buku-buku yang terlihat cukup tebal. Kami saling menyapa dan mataku terhenti di taman bawah pohon, tampak Iyan dan Wita sedang terlibat pembicaraan serius. Wah..wah…tema apa lagi yang terangkai, aku mendekat.
“Hei, good morning” sambut mereka bersamaan.
“Hmm, morning. Lagi cerita apa sih?” tanyaku
“Eh, tadi aku ketemu sama Kak Dito, duh senangnya mimpi apa aku semalam,” ujar Wita histeris.
“Oh ya?” timpalku dengan santai. Trus kalian ngobrol?
“Cuma nyapa sih, biasalah udah klise, ada kuliah dek? Jam berapa?” jawab Iyan dengan cepat.
“Klise sih klise, tapi…wuiih! Hatiku empot-empotan” ujar Wita dengan wajah bersemu merah.
Aku tersenyum. Jadi itu yang mereka bicarakan dengan serius. Hmm…cinta lagi, cinta lagi. Sepertinya cinta menjadi logo pembuka cerita akhir-akhir ini. Aku terdiam, rasa malas menjalar di tubuhku untuk merespon pembicaraan mereka. Lebih pastinya aku tak tertarik membicarakan lelaki gondrong, bertubuh kurus, berkulit putih, dan dikenal oleh banyak mahasiswa itu. Lumayan manislah, tapi terkesan bangga akan reputasinya sebagai aktivis kampus.
Diam-diam kuperhatikan ekspresi wajah Wita, begitu segar, binar-binar kebahagiaan mengelilingi kedua bola matanya, dengan bibir yang tak henti menebar senyuman termanis. Kusimpulkan, ia tengah jatuh cinta pada sosok yang dijumpainya tadi. Rasa itu terlihat jelas ia pupuk sepenuh hati. Lamat-lamat kudengar ucapannya, aku akan berubah seperti yang dia minta,  jika memang kamu jadian nanti, apapun aku lakukan untuknya, dan aku akan mencoba untuk selalu memperhatikan dan merawatnya. Oh, my God, This is all for love. Keputusan baikkah itu? Aku terhenyak, jauh di lubuk hati ini memang menginginkan ia lebih empati pada sekelilingnya, tapi bukan seperti ini, ia ingin berubah demi cowok itu. Bukan tak mungkin bila suatu hari nanti ‘ku ‘kan berkata you are not you were. Aku tak ingin dia menjadi orang lain. Tapi…, bukankah cinta selalu meminta perubahan? Bukan kah cinta butuh pengorbanan? Ah, entahlah. Mengapa ego dan kepicikanku akan cinta harus aku tancapkan pula di hati sahabatku. Padahal ia juga memiliki pandangan sendiri tentang 5 huruf itu. Kalau cinta bagiku adalah sebuah selingan sekadar memvariasikan kegiatan sehari-hari yang kadang membosankan, mungkin saja baginya cinta adalah hal yang tulus dan sebuah pengorbanan hakiki. Aku akui, sikapku terhadap sebuah cinta begitu angkuh, bahkan hati tulus seseorang pun aku permainkan di masa lalu tanpa rasa iba. Yang kutahu ia tulus padaku, dan kusambut tanpa debaran, tapi dengan genderang permainan tanpa ia sadari. Cukup sinis tindakan itu. Aku ingat sebait goresan pernah kutorehkan di lembaran diaryku, saat SMA dulu

Cinta,
Ia datang tanpa kuseru, dan
Kusambut di tepi jurang karnaval
Melambaikah ia, menitikah ia
Tak kupeduli, yang kutahu
Penaklukan telah terukir

Sungguh kejam coretan tangan dinginku. Walau sinis, gurat senyum kepicikan terlukis jua saat itu, kian hari kian menjerumuskan diriku pada permainan hati yang cukup arogan yang ternyata menjadi bumerang bagiku, puuhh! Sepertinya kebekuan tlah menggantikan keangkuhan ini. Tapi apa bedanya?
Waktu merambat hingga pikul 09.15, di ujung koridor terlihat sang dosen Psikologi dengan kacamata tebalnya berjalan menuju ruang kuliah. Dengan cepat monolog-ku terhenti dan berdiri sambil memberi kode pada Iyan dan Wita yang masih sibuk berkisah.
“Wah, on time amat,” sahut Wita
“Memangnya kamu mau masuk jam berapa?” tanyaku
“Ya, 09.15 lewat-lewat dikitlah,” jawabnya lagi
“Sudah, sudah. Ayo masuk, nanti pintu ruangan tertutup lagi, kita kan tidak boleh telat masuk!” Imbuh Iyan. Kami pun berjalan dengan cepat menuju ruangan. Di dalam teman-teman sudah stand by dengan gaya masing-masing, hingga Pak Riswan masuk ruangan dan berbalik menutup pintu. Dia memang dosen yang disiplin dan tegas. Terlambat berarti di luar. Mata kuliah pun dimulai “Perkembangan Afektif Remaja,” Sub Bahasan Perkembangan Emosi Remaja. Wah, wah… semangat 45 muncul dalam ruangan. Emosi remaja berarti termasuk di dalamnya masalah CINTA, that’s right …. Menit berikutnya diskusi berjalan, materinya dipresentasekan oleh Ima dan kelompoknya. Pertanyaan mulai pada emosi itu sendiri, hingga pada  satu pertanyaan yang menghentakkanku. Aldi mengajukan pertanyaan “Apa sebenarnya cinta itu?” dengan tenang sang penyaji menjawab, bahwa cinta adalah perasaan tulus dan suci untuk orang lain yang tak layak untuk dinodai apalagi dipermainkan. Karena ia bukanlah sebuah bola di lapangan. Buukk!!! Aku terhenyak. Jawaban tadi seakan keris melesat menyayat hatiku. Kata-kata itu benar-benar melukaiku membuatku merasa seolah-olah manusia robot yang tak berperasaan, selama ini kemurnian pandangan itu tak pernah kumiliki.



Valentine di tepi rona pelangi

Kepenatan merajai tubuhku siang ini, pencarian buku referensi untuk tugas Profasi Keguruanku di perpustakaan jurusan, universitas, dan wilayah tadi cukup menguras energi. Beberapa kali naik angkot di siang bolong membuat kepalaku seakan mau pecah. Akhirnya usai shalat Dzuhur kuistirahatkan tubuhku di kasur empuk. Kutatap langit-langit kamar seolah-olah obat keletihanku menggantung di sana. Belum sepuluh menit mataku terpejam sebuah ketukan di pintu kamar terdengar, dengan langkah loyo kubuka pintu itu, ternyata Si Wita.
“Ah… ganggu istirahat siangku saja,” ujarku sedikit kesal dengan mata kuyu.
“Yee, marah lagi, ya udah tidur aja sana, biar aku dengar tape sendiri.” timpalnya sambil memasukkan kaset Nina dengan Ya…Ya…Ya-nya itu.
“Aduh ke-kerasan, undur dikit volumenya!!!”
Kesejukan malam datang menyelimuti bumi. Rasa damai menyatu di dalamnya, sambil menenteng dua gelas cappucino, aku dan Wita yang malam itu menginap di kost-kost-anku mengambil tempat di teras kamar.
“Eh, besok malam valentine, kamu ada acara?”tanya Wita.
“Tidak ada, memang kenapa?”
“Ke pantai yuk! Ada acara di sana, biasa, anak muda, tadi aku diundang kak Dito, duh senangnya. Kayaknya ini adalah kesempatan untuk dekat dengannya.” Ujarnya penuh harap.
Aku asyik menyeruput cappucinoku, lalu kemudian bertanya pada Wita.
“Wit, kamu bahagia ya, dengan cinta terpendammu?”
“Iya. Meski aku tidak tahu sampai kapan harapan ini hadir, yang aku tahu meski aku tidak memilikinya, tapi aku bahagia saat melihatnya, sekalipun ia terkadang tak sadar akan kehadiranku tapi ia menyapaku itu sudah cukup, lebih dari cukup.” Tiba-tiba ia memandangku lekat-lekat membuatku heran.
“Cha, beritahu padaku bagaimana mewujudkannya, mewujudkan cinta terpendam ini?” tanyanya sambil menggenggam tanganku. Aku terdiam, kuteliti wajahnya, ada pendar-pendar harap di sana, bersama gambaran kecemasan. Ya ampun, aku kembali dihadapkan dengan masalah cinta. Apa yang harus aku katakan?
“Cha…,” panggil Wita sambil menggoyangkan tanganku.”
”Sampaikan padanya,” ujarku. Ia tertegun.
“Kenapa? Takut kecewa? Wit, tapi bagaimana kamu tahu dia menolak atau menerima kalau dia sendiri tidak tahu kalau kau mencintainya? Kamu berani mencintai, berarti sudah berani menerima resiko.”
“Hm…,” hanya itu jawabannya.
Kebisuan pun menyergap, merayap di tengah malam. Hingga di pembaringan pun kami menyelam dalam pikiran masing- masing. Detak jam dinding kian melaju dan aku tak mampu memicingkan mata. Sepinya malam memerihkan mataku. Sejujurnya aku tak ingin bermasalah lagi dengan cinta, tapi nuraniku terasa kosong boleh dibilang hati yang mendamba. Namun entah mengapa sepertinya ada sesuatu yang mencekalnya. Aku bangkit dan menarik laci mengambil diary dan menuliskan kegundahanku.

Sejujurnya,
Kuingin lembaran baru hadir di hidupku.
Letih kurawat kemunafikan ini
tak kuat lagi ku berkasuari dalam belantara.
Kepura-puraan kini tlah menyayat, … di sini
Masa lalu mengikatku
Tak kuasa lepas pun sedepa

Itulah, harapku pada masa lalu masih ada, meski tlah nyata semua tak akan terulang lagi. Sekian lama kucoba menerima cinta lain tapi masih ku tak sanggup lepas dari masa lalu. Ah… karena itu aku benci cinta, memporak-porandakkan hatiku saja. Namun aku tetap menerima resiko permainanku beberapa tahun yang lalu, aku yang mempermainkan, aku sendiri yang sakit.
Keceriaan hari kembali bercengkerama, membersitkan pijar-pijar kasih sayang. Sambutan valentine’s day hangat di kalangan remaja, semua memberi keceriaan yang diwujudkan dalam party, sebenarnya bagiku hari ini biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa sama sekali. Dari dulu sampai sekarang hari valentine nggak pernah ada dalam kamusku, sekadar hura-hura dan buang-buang waktu saja.
“Cha, aku berangkat dulu ya!” seru Wita sambil menenteng sesuatu, entah apa isinya.
“Ke mana?” tanyaku.
“Ya, ke… jalan-jalan bareng yang lain, habis kamu nggak mau ikut sih, jadi aku pergi aja. Kamu akan menyesal nggak ikut,” jawabnya, lalu pergi.
Menyesal? Untuk apa aku menyesal hanya karena tidak ikut party mereka? Lagipula, apa yang akan aku dapatkan di sana? Kalau Cuma untuk menebar kasih sayang, setiap hari juga bisa. Ah… ada-ada saja. Aku kembali ke kamar, dengan memeriksa tugas-tugas kuliahku. Sepanjang hari aku berkutat dengan buku-buku hingga malam tiba. Tak kupusingkan apa yang sedang dilakukan Wita, Ani, Iyan, dan Ima di hari Valentaine Day ini, yang jelas tidak ada acara kumpul se-gank, atau mungkin yang lain juga sibuk dengan tugas kuliah.
Pukul 8 malam tempat kostku sunyi, sepertinya pada keluar, Reyta juga menghilang. Tapi no problem, dengan begitu aku bisa bebas menikmati lagu-lagu yang aku stel. Sambil duduk istirahat di teras aku mendengarkan lantunan lagu Baim dengan lagu andalannya “Kau Milikku,” sangat syahdu membuatku menerawang jauh ke angkasa. Baim meyakinkan diri memiliki cintanya karena itu ia berusaha meraihnya dan mungkin ia tidak pernah sinis terhadap hal yang namanya cinta. Tidak sepertiku yang memandang cinta sebagai penyiksaan.

Detak malam
Melaju di ketinggian khayal
Merayu nurani pada persinggahan lalu, dan
Hangatnya membekukan jiwaku
Tuk berbaur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar