Minggu, 07 Oktober 2012

Ketika Kau Hadir : Part 2



Bagian DuA

Pagi tersenyum indah. Matahari mulai menyemburat menyapa semesta yang riang. Raga ini seolah ingin memberontak. Mengapa pagi begitu cepat hadir di hari minggu seperti ini? Mimpi belum usai kujalin. Ocha tertatih mencoba bangkit dari tempat tidur. Sungguh rasanya seluruh sendi tulangnya seolah ikut patah mendengar omelan sepanjang rel kerata Bunda dari dapur.
“Ocha, bangun dong sayang, udah siang tuh! Aduh, kamu dikalahin lagi sama si Pipit, dasar pemalas!” seru Bunda lantang yang ternyata sudah ada di depan pintu kamarku sambil menggedor-gedor dengan berkacak pinggang.
Si Pipit itu adalah nama ayam jantan kesayangan Bunda. Bahkan, Ocha anak semata wayangnya kadang dicuekin total kalau urusannya sudah menyangkut Si Pipit itu, dasar ayam sialan bisa banget yah, kamu ambil posisi aku di depan Bunda? Begitulah gerutuannya setiap hari kalo selalu dibanding-bandingkan dengan Si Pipit. Seringkali Ocha memakinya hingga tenggorokannya serak, menunjukinya seperti memarahi seorang adik yang nakal. Tentu saja Pipit akan diam saja. Uhhh.
“Iya, Bunda, bentar lagi deh. Lagian ini hari Minggu, Ocha tidak sekolah, buat apa bangun cepat-cepat?” Sungutnya berjalan ke pintu kamar sambil memeluk bantal guling.
“Ada apa sih, Bunda bangunin Ocha? Suruh belanja lagi? Ocha nggak mau, ah! Ocha mau bobo’ lagi, soalnya masih ngantuk nih. Pliss ya, Bunda!” Dengan berbagai alasan aku membujuk Bunda agar mengizinkanku memeluk Teddy Gedeku lagi. Tapi rupanya Bunda tak kenal kompromi juga kali ini, sambil menjewer telingaku, menarikku ke luar dari kamarku.
“Bagus ya, sayang. Bunda kan tidak menyuruh kamu pulang larut malam, pake diantar Si Ichal.” Sambil menahan sakit akibat jeweran Bunda, aku mencoba menyela pembicaraannya.
“Aduh! Sakit nih, bun. Ocha pulang jam 11 malam kok, belum terlalu larut. Lagian Ichal kan sahabat Ocha. Bunda juga sudah tahu, kok masih marah sih? Ocha memanyunkan bibir sebagai tanda protes. Kalau sudah begini, hati Bunda pasti akan luluh. Lihat saja, dia nggak tega kok ngeliat anaknya yang tersayang ngambek seabad. Hihihi. Akting berhasil. Sorak Ocha dalam hati.
“Sudah kalo begitu, Bunda maafkan deh, tapi jangan diulangi yah? Sekarang kamu mandi, habis itu kamu ke rumah tante Mirna,” kata Bunda dengan suara mulai lambat kembali. Ocha pikir sih karena Bunda ada maunya, jadi… ya gitu deh. Upss bisa durhaka dong. Aduh, maafin Ocha ya Bunda, pliss! Sangat lama Ocha tertegun. Tentu saja Bunda heran ngeliat tingkah putri semata wayangnya. Kok tiba-tiba tergugu sambil senyum cekikikan lagi.
“Ocha, ngapain senyum-senyum sendiri, kamu mau kan?” tanya Bunda menatapku penuh keheranan dan sepertinya Bunda telah separuh kemenangannya dariku, ya… biarlah demi Bundaku yang cantik dan sayang sama aku, dia menang lagi. Ihh… pertandingan kaliii!!
“ Baiklah Bunda sayang, Ocha bakal nurutin perintah Bunda. Tapi, dengan satu syarat…” sambil mengerling Bunda dengan gaya centilku. Aku meninggalkan Bunda sendirian yang menganga lebar melihat kelakuanku. Aku memang menuruti keinginan Bunda, tapi jangan salah semua ini kulakukan agar Bunda ngijinin aku pergi bareng teman-temanku yang rada centil itu ke pantai. Uppss… hampir lupa, janjiannya jam 09.00 pagi ini, katanya sih ada kejutan. Aduhh… apa yah? Kok jadi penasaran begini sih. Ah, sudahlah, mending aku buruan mandi, trus ke rumah tante Mirna, sahabat mama yang mulutnya selebar beo itu. Tapi baik hati lhooo…, ditambah lagi anaknya cakep kayak bintang film Hollywood, Tom Cruise… alamaaak!!! Aku bisa pingsan kalau ketemu dia nanti. Jantungku bisa copot dan pastinya bakal dilarikan ke rumah sakit, pake Honda Jazz merahnya itu lhoo…, Duh, kok ngelantur ke situ sih, kapan mandinya. Ucapku cekikikan menuju ke kamar mandi. Byuuurr…. Segarnya, apalagi keramas pagi hari, otak jadi rileks, kepala jadi dingin.

****
Gadis itu mengayuh Polygon hitam kebanggaannya menyusuri jalan beraspal yang lumayan mulus menuju rumah tante Mirna. Sepintas Ocha melirik jam tangannya dan ternyata sudah menunjukkan pukul 07.45. Wah… gawat, harus buruan nih. Kalo tidak aku bisa telat janjian dengan my best friend semua, Naya, Riri, and Uni. Sepeda itu melaju kencang secepat mungkin. Nafas pun ngos-ngosan setelah tiba di rumah itu. Tanpa menoleh sedikit pun, kutaruh Polygonku berdekatan dengan Honda Jazz Merah itu. Hampir saja tertabrak, tapi secepat kilat seseorang telah menahannya dari samping. Pegangannya begitu kuat sehingga gadis itu tersungkur miring ke arahnya. Gadis bermata indah itu menatap matanya yang tajam. Dia tersenyum, uhhh… manis buanget!
 “Maaf yah, aku buru-buru, mobilmu tidak lecet kan?” gadis itu cepat tersadar dan segera minta maaf atas perbuatannya. Hampir saja jantungnya copot saat senyum mautnya tersungging dari bibir tipisnya. Gadis berwajah oval itu memalingkan wajah. Tak boleh terlalu kerdil begitu memujinya. Bisa-bisa dia besar kepala lagi, ujarku dalam hati. Setelah tertegun sejenak, pertanyaannya pun dijawab sambil membetulkan letak polygon hitamnya.
 “Nggak apa-apa kok, hanya lecet sedikit bisa diperbaiki. Hei, nama kamu siapa? Aku Ragil,” Dia mengulurkan tangannya yang blepotan itu, tapi tak apalah.
“Ocha. O, ya tante Mirna ada? Soalnya ada titipan dari Bunda nih”. Ocha menyerahkan bungkusan plastik yang isinya entah apa. Mungkin ajah bom. Sebab bunda melarangku membukanya.”
“Maksud kamu Mama? Ada kok di dalam, tunggu ya, aku panggilkan atau kamu masuk saja!” Tanpa ba-bi-bu lagi Ocha melangkah ke dalam mengikuti langkah kaki Ragil yang terus saja berteriak memanggil Mamanya di dapur. Biasalah, Ibu rumah tangga hari minggu begini pasti kerjaannya di dapur mempersiapkan sarapan pagi untuk keluarganya. Tak lama kemudian, tampak dari dalam tante Mirna menuju ke arah Ocha sambil menyapanya dengan wajah lelah dan letih yang nampak Ragil sih, nggak bantu Mama-nya, khan repot begini. Aduh lupa, kan cowok.
“Aduh jadi merepotkan ya, Cha? Makasih yah, bilang sama Mamamu juga. Duduk dulu ya, tante bikinin teh, kamu pasti capek.”
 Baru saja tante Mirna akan berdiri, Ocha segera menyelanya.
 “nggak usahlah tante, Ocha pulang saja. Soalnya ada janji sama teman, hampir telat nih.” Ocha berdiri dan berpamitan pada tante dan Ragil yang menatapnya bengong tak berkedip.
“Mama, anaknya tante Rani cantik ya?” Ragil melirik mamanya dengan sumringah lebar yang dibalas lirikan aneh oleh Mamanya.


*Bersambung......... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar