Bagian DuA
Pagi tersenyum indah. Matahari mulai menyemburat
menyapa semesta yang riang. Raga ini seolah ingin memberontak. Mengapa pagi
begitu cepat hadir di hari minggu seperti ini? Mimpi belum usai kujalin. Ocha
tertatih mencoba bangkit dari tempat tidur. Sungguh rasanya seluruh sendi
tulangnya seolah ikut patah mendengar omelan sepanjang rel kerata Bunda dari
dapur.
“Ocha, bangun
dong sayang, udah siang tuh! Aduh,
kamu dikalahin lagi sama si Pipit, dasar pemalas!” seru Bunda lantang yang
ternyata sudah ada di depan pintu kamarku sambil menggedor-gedor dengan
berkacak pinggang.
Si Pipit itu
adalah nama ayam jantan kesayangan Bunda. Bahkan, Ocha anak semata wayangnya kadang
dicuekin total kalau urusannya sudah menyangkut Si Pipit itu, dasar ayam sialan
bisa banget yah, kamu ambil posisi aku di depan Bunda? Begitulah gerutuannya setiap
hari kalo selalu dibanding-bandingkan dengan Si Pipit. Seringkali Ocha
memakinya hingga tenggorokannya serak, menunjukinya seperti memarahi seorang
adik yang nakal. Tentu saja Pipit akan diam saja. Uhhh.
“Iya, Bunda, bentar lagi deh. Lagian ini hari Minggu, Ocha tidak
sekolah, buat apa bangun cepat-cepat?” Sungutnya berjalan ke pintu kamar sambil
memeluk bantal guling.
“Ada apa sih, Bunda bangunin Ocha?
Suruh belanja lagi? Ocha nggak mau, ah! Ocha mau bobo’ lagi, soalnya masih ngantuk
nih. Pliss ya, Bunda!” Dengan berbagai alasan aku membujuk Bunda agar
mengizinkanku memeluk Teddy Gedeku lagi. Tapi rupanya Bunda tak kenal kompromi
juga kali ini, sambil menjewer telingaku, menarikku ke luar dari kamarku.
“Bagus ya, sayang. Bunda kan tidak
menyuruh kamu pulang larut malam, pake
diantar Si Ichal.” Sambil menahan sakit akibat jeweran Bunda, aku mencoba
menyela pembicaraannya.
“Aduh! Sakit nih, bun. Ocha pulang
jam 11 malam kok, belum terlalu larut. Lagian Ichal kan sahabat Ocha. Bunda
juga sudah tahu, kok masih marah sih? Ocha memanyunkan bibir sebagai tanda
protes. Kalau sudah begini, hati Bunda pasti akan luluh. Lihat saja, dia nggak
tega kok ngeliat anaknya yang tersayang ngambek seabad. Hihihi. Akting
berhasil. Sorak Ocha dalam hati.
“Sudah kalo begitu, Bunda maafkan
deh, tapi jangan diulangi yah? Sekarang kamu mandi, habis itu kamu ke rumah
tante Mirna,” kata Bunda dengan suara mulai lambat kembali. Ocha pikir sih
karena Bunda ada maunya, jadi… ya gitu deh. Upss bisa durhaka dong. Aduh,
maafin Ocha ya Bunda, pliss! Sangat
lama Ocha tertegun. Tentu saja Bunda heran ngeliat tingkah putri semata
wayangnya. Kok tiba-tiba tergugu sambil senyum cekikikan lagi.
“Ocha, ngapain senyum-senyum
sendiri, kamu mau kan?” tanya Bunda menatapku penuh keheranan dan sepertinya
Bunda telah separuh kemenangannya dariku, ya… biarlah demi Bundaku yang cantik
dan sayang sama aku, dia menang lagi. Ihh… pertandingan kaliii!!
“ Baiklah Bunda sayang, Ocha bakal
nurutin perintah Bunda. Tapi, dengan satu syarat…” sambil mengerling Bunda
dengan gaya centilku. Aku meninggalkan Bunda sendirian yang menganga lebar melihat
kelakuanku. Aku memang menuruti keinginan Bunda, tapi jangan salah semua ini
kulakukan agar Bunda ngijinin aku pergi bareng teman-temanku yang rada centil
itu ke pantai. Uppss… hampir lupa, janjiannya jam 09.00 pagi ini, katanya sih
ada kejutan. Aduhh… apa yah? Kok jadi penasaran begini sih. Ah, sudahlah,
mending aku buruan mandi, trus ke rumah tante Mirna, sahabat mama yang mulutnya
selebar beo itu. Tapi baik hati lhooo…, ditambah lagi anaknya cakep kayak
bintang film Hollywood, Tom Cruise… alamaaak!!! Aku bisa pingsan kalau ketemu
dia nanti. Jantungku bisa copot dan pastinya bakal dilarikan ke rumah sakit,
pake Honda Jazz merahnya itu lhoo…, Duh, kok ngelantur ke situ sih, kapan
mandinya. Ucapku cekikikan menuju ke kamar mandi. Byuuurr…. Segarnya, apalagi
keramas pagi hari, otak jadi rileks, kepala jadi dingin.
****
Gadis itu mengayuh Polygon hitam kebanggaannya
menyusuri jalan beraspal yang lumayan mulus menuju rumah tante Mirna. Sepintas Ocha melirik jam tangannya dan ternyata sudah menunjukkan pukul 07.45. Wah… gawat,
harus buruan nih. Kalo tidak aku bisa telat janjian dengan my best friend semua, Naya, Riri, and Uni. Sepeda itu melaju kencang secepat
mungkin. Nafas pun ngos-ngosan setelah tiba di rumah itu. Tanpa menoleh
sedikit pun, kutaruh Polygonku berdekatan dengan Honda Jazz Merah itu. Hampir
saja tertabrak, tapi secepat kilat seseorang telah menahannya dari samping.
Pegangannya begitu kuat sehingga gadis itu tersungkur miring ke arahnya. Gadis bermata indah itu menatap
matanya yang tajam. Dia tersenyum, uhhh… manis buanget!
“Maaf yah, aku buru-buru, mobilmu tidak lecet
kan?” gadis itu cepat tersadar dan segera minta maaf atas perbuatannya. Hampir saja
jantungnya copot saat senyum mautnya tersungging dari bibir tipisnya. Gadis berwajah oval itu memalingkan wajah. Tak
boleh terlalu kerdil begitu memujinya. Bisa-bisa dia besar kepala lagi, ujarku
dalam hati. Setelah tertegun sejenak, pertanyaannya pun dijawab sambil
membetulkan letak polygon hitamnya.
“Nggak apa-apa kok, hanya lecet sedikit bisa
diperbaiki. Hei, nama kamu siapa? Aku Ragil,” Dia mengulurkan tangannya yang
blepotan itu, tapi tak apalah.
“Ocha. O, ya tante Mirna ada? Soalnya ada titipan
dari Bunda nih”. Ocha menyerahkan bungkusan plastik yang isinya entah apa. Mungkin ajah bom. Sebab
bunda melarangku membukanya.”
“Maksud kamu Mama? Ada kok di
dalam, tunggu ya, aku panggilkan atau kamu masuk saja!” Tanpa ba-bi-bu lagi Ocha melangkah ke dalam mengikuti langkah kaki Ragil yang terus saja berteriak
memanggil Mamanya di dapur. Biasalah, Ibu rumah tangga hari minggu begini
pasti kerjaannya di dapur mempersiapkan sarapan pagi untuk keluarganya. Tak
lama kemudian, tampak dari dalam tante Mirna menuju ke arah Ocha sambil menyapanya dengan wajah lelah dan letih yang nampak Ragil sih, nggak bantu Mama-nya, khan repot begini. Aduh
lupa, kan cowok.
“Aduh jadi merepotkan ya, Cha? Makasih yah, bilang
sama Mamamu juga. Duduk dulu ya, tante bikinin teh, kamu pasti capek.”
Baru saja tante Mirna akan
berdiri, Ocha segera menyelanya.
“nggak usahlah tante, Ocha pulang saja.
Soalnya ada janji sama teman, hampir telat nih.” Ocha berdiri dan berpamitan
pada tante dan Ragil yang menatapnya bengong tak berkedip.
“Mama, anaknya tante Rani cantik
ya?” Ragil melirik mamanya dengan sumringah lebar yang dibalas lirikan aneh
oleh Mamanya.
*Bersambung.........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar